Peternak Ayam Broiler Pati Terancam Gulung Tikar, PPMP Desak Pemerintah Perbaiki Tata Kelola

waktu baca 3 menit
Rabu, 1 Jul 2026 16:44 0 55 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Di tengah pertumbuhan industri perunggasan nasional yang terus menunjukkan tren positif, nasib peternak rakyat khususnya di Kabupaten Pati justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

BHAYANGKARA 80

Dalam beberapa pekan terakhir, harga ayam hidup di tingkat peternak terus berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).

Kondisi itu menyebabkan kerugian besar dan mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

Persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP).

Organisasi ini menilai masih terjadi ketimpangan dalam tata kelola industri perunggasan nasional.

“Kondisi ini membuat peternak rakyat berada pada posisi paling rentan di tengah rantai bisnis perunggasan, ” ujar Ketua Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) Pantura Timur, Ir. Saripudin.

Saripudin mengatakan, peternak saat ini menghadapi situasi yang semakin sulit, sebab harga jual ayam hidup tidak mampu menutupi biaya produksi.

“Peternak rakyat bukan tidak mampu berproduksi, tetapi mereka sedang menghadapi sistem usaha yang belum memberikan keseimbangan,” terang Saripudin saat ditemui pada Rabu, 1 Juli 2026.

Ketika harga ayam hidup terus berada di bawah biaya produksi selama berminggu-minggu, dinilai berdampak pada modal peternak yang semakin habis.

“Jika kondisi ini terus dibiarkan, banyak kandang rakyat akan berhenti beroperasi dan peternak terpaksa meninggalkan usahanya,” ungkap Barry, sapaannya.

Menurut Saripudin, sejak akhir Mei 2026 harga ayam hidup terus berada di bawah HPP.

Kerugian yang dialami peternak diperkirakan mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

BACA JUGA :  Budi Gabut, Kreator Jenaka Kudus dengan Kisah Haru di Balik Kesuksesan

“Sehingga sebagian besar peternak harus menggunakan modal cadangan untuk mempertahankan usaha mereka, ” terang peternak asal Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati ini.

Kondisi tersebut juga dirasakan para peternak ayam broiler di Kabupaten Pati, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi ayam pedaging di Jawa Tengah (Jateng).

Banyak peternak di wilayah Bumi Mina Tani, terpaksa menjual ayam dengan harga jauh di bawah biaya produksi.

Padahal harga pakan, Day Old Chick (DOC), obat-obatan, vitamin, biaya listrik, serta tenaga kerja tetap tinggi.

Akibat kondisi itu, maka keuntungan peternak terus tergerus bahkan berubah menjadi kerugian.

Bahkan, tidak sedikit peternak di Kabupaten Pati yang mulai mengurangi kapasitas kandang.

Upaya lain yang dilakukan kalangan peternak Kabupaten Pati, Kudus, Grobogan dan kabupaten lain di Pantura Timur, dengan menunda periode chick in, hingga mengosongkan kandang sementara.

Hal ini karena keterbatasan modal untuk melanjutkan siklus produksi berikutnya.

Saripudin mengaku bahwa kondisi yang dihadapi peternak ayam pedaging saat ini bukan hanya soal harga ayam yang jatuh.

“Namun juga arus kas peternak sudah terganggu dan modal habis untuk menutup kerugian besar. Padahal biaya produksi terus berjalan, ” tandasnya.

Ia menjelaskan, persoalan yang dihadapi peternak bukan hanya rendahnya harga ayam hidup.

Namun juga lemahnya posisi tawar peternak dalam struktur industri perunggasan.

Saat perusahaan integrator menguasai rantai usaha mulai dari pembibitan, pakan, obat dan vaksin hingga distribusi produk unggas, lanjut Saripudin, peternak rakyat hanya bergerak pada sektor budi daya ayam hidup dan menanggung hampir seluruh risiko usaha.

Pihaknya juga menyoroti dugaan kelebihan pasokan DOC Final Stock (FS).

Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab melimpahnya produksi ayam hidup di pasar.

BACA JUGA :  Tangani RTLH Kemiskinan Ekstrem, Disperkim Pati Salurkan Hunian Rumah Sederhana Sehat  

“Ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan tersebut menyebabkan harga ayam terus tertekan dalam waktu yang cukup lama, ” tukasnya.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan perunggasan besar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru membukukan kinerja keuangan yang positif.

Editor: Mila Candra 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini