Jarang Terungkap, Meja Teh Jadi Saksi Bisu Ritual Sore RA Kartini

waktu baca 2 menit
Senin, 20 Apr 2026 12:43 0 35 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Di salah satu sudut bersahaja Museum RA Kartini, berdiri sebuah meja kayu yang sekilas tampak biasa.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Namun, jangan terkecoh oleh diamnya, meja ini adalah panggung bagi ritual sore yang memadukan diplomasi keluarga, aroma rempah, dan filosofi Jawa yang mendalam.

​Bukan sekadar perabot, meja di ruang keluarga ini merupakan saksi bisu bagaimana sang pionir emansipasi, RA Kartini, merajut harmoni antara budaya Barat dan kearifan lokal dalam kesehariannya.

Retna Dyah Radityawati, Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, mengungkapkan bahwa meja ini menyimpan rahasia kehangatan keluarga Joyodiningrat.

ketua pgri

Berbeda dengan keluarga bangsawan pada umumnya, momen kunci mereka justru terjadi pada sore hari.

​”Sekitar jam 4 sore, setelah Raden Adipati Joyodiningrat selesai bekerja dan membersihkan diri, beliau akan duduk bersama Kartini. Di sinilah mereka berkumpul,” ujar Retna.

​Yang menarik adalah gaya hidup “hibrida” yang mereka jalani.

Tradisi minum teh (High Tea) ala Belanda diadopsi, namun dipadukan dengan sentuhan Nusantara.

Mereka menyeduh teh dengan campuran kapulaga yang dipetik langsung dari apotek hidup di pekarangan rumah, menciptakan aroma khas yang menemani diskusi-diskusi mereka.

​Kartini tidak hanya memesan furnitur, ia mendesainnya.

Meja ini dikelilingi oleh enam kursi yang sarat akan simbolisme.

Lima kursi dihiasi ukiran tokoh Pandawa Lima, sementara satu kursi utama menampilkan sosok Kresna.

Pandawa Lima Melambangkan kekuatan keluarga yang solid, persatuan, dan keutuhan fondasi rumah tangga.

BACA JUGA :  Revitalisasi Pasar Kreatif Lasem, Antara Harapan dan Tantangan

Kresna sebagai tokoh paling bijaksana dan penengah konflik, kehadiran figur ini di meja makan menunjukkan betapa Kartini memuja kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

​Retna mengungkapkan, meja ini adalah bukti bahwa perjuangan Kartini tidak hanya terjadi lewat pena dan kertas, tetapi juga melalui penanaman nilai di ruang domestik.

Kartini menunjukkan bahwa emansipasi dan pemikiran besar bisa lahir dari percakapan sederhana di meja makan.

​“Dari hal kecil seperti meja dan kursi, kita bisa melihat bagaimana Kartini memaknai hidup. Ini yang sering luput dari pandangan pengunjung,” tambahnya.

​Menjelang peringatan Hari Kartini, kisah meja kayu ini mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu ditulis di medan perang.

Kadang, sejarah justru tumbuh subur di sela kepulan uap teh kapulaga dan hangatnya diskusi keluarga di sore hari.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini