Foto: Intan Septi Rahayu Nugroho, sinden muda asal Pati (Mondes/dok. pribadi) PATI – Mondes.co.id | Anak muda zaman sekarang jarang menekuni dunia kesenian jawa.
Mereka lebih fokus pada gadget masing-masing, seperti bermain game atau chattingan bersama temannya.
Namun tidak dengan Intan Septi Rahayu Nugroho yang tumbuh di lingkungan keluarga seniman.
Ia menjadi pesinden di kalangan anak muda.
Suara perempuan kelahiran Kabupaten Pati ini terdengar khas.
Sesekali ia menyanyikan lagu tembang sinden.
Meskipun tak begitu paham, suara dia terdengar merdu.
Lekak-lekuknya suaranya juga khas, tak seperti lagu pada umumnya.
“Ya begitulah suara saya saat nyinden. Sulit dijelaskan, bedanya dengan lagu biasa dengan kata-kata, bisanya ya lewat suara ini,” ujarnya, Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurutnya, bergelut di dunia sinden ibarat menjadi passion.
Meski banyak lagu yang didengarnya, tetap sinden yang menjadi utama.
Belum banyak genre selain sinden yang Intan lirik.
Selain nyinden diminati banyak orang, lagu pop dan dangdutan sudah terlalu mainstream.
“Ini seperti passion (menjadi sinden). Selain itu, sudah banyak yang pop dan dangdutan. Kalau sinden kan jarang. Itung-itung nguri-nguri budaya juga,” ucapnya.
Ayahnya sangat berperan di dunia sindennya.
Dari sang ayahlah, Intan menemukan ciri khasnya dalam berkesenian.
“Guruku ialah ayahku sendiri. Saya belajar dari beliau, ayahku seniman juga,” terangnya.
Selain itu, dirinya juga menyadari ketertarikan ke sinden tidak hanya semata-mata dari ayah.
Melainkan dari corak suara yang ia punya juga mengarah ke sana.
“Ayah ini basic-nya tembang-tembang kenangan. Suaraku ini tipe klasik, walaupun hampir semua genre bisa,” ungkap Intan.
Pelajaran musik yang sering diberikan ayahnya tak banyak.
Ilmu yang selalu ditekankan kepada Intan ialah pelafalan lagu.
Menurutnya, pelafalan menjadi titik penting dalam modalnya bernyanyi.
“Sebab kalau nyanyi pelafalan gak jelas pesan dari lagu itu juga tidak sampai. Selain itu, saya juga latian di Youtube,” katanya.
Intan awalnya memang hanya mengikuti perlombaan sebagai perwakilan Sekolah Dasar (SD) saat itu.
Namun, dengan potensi yang ia punya, dari sana Intan berhasil memboyong juara.
“Sejak SD kerap ikut perlombaan sinden. Setelah menang, kemudian fokus mendalami bakat. Ayah yang mengajarkan bagaimana caranya,” tandasnya.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar