Foto: Abdul Jalil, seorang petani sekaligus penyedia pembenihan padi sistem dapok asal Desa Maguan, Kecamatan Kaliori (Mondes/Supriyanto) REMBANG — Mondes.co.id | Menghadirkan efisiensi dan keserasian dalam pola tanam, sistem pembenihan padi model dapok, kini kian diminati oleh para petani di wilayah Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.
Memasuki musim tanam ketiga (MT 3) di tahun 2026 ini, permintaan terhadap bibit padi yang menggunakan metode dapok, mengalami lonjakan yang sangat signifikan.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Abdul Jalil, seorang petani sekaligus penyedia pembenihan padi sistem dapok asal Desa Maguan, Kecamatan Kaliori.
Menurutnya, popularitas sistem ini terus melejit karena menawarkan berbagai kemudahan yang tidak dimiliki oleh sistem pembenihan konvensional.
Abdul Jalil menjelaskan bahwa tingginya antusiasme petani terhadap sistem dapok, membuat wilayah pemasarannya kini semakin meluas.
Tidak hanya melayani petani lokal, pesanan kini datang dari berbagai desa lintas daerah.
”Untuk MT 3 tahun 2026 ini, pemesanan pembenihan padi sistem dapok di Kecamatan Kaliori yang berpusat di Desa Maguan, mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pesanan datang dari berbagai desa, seperti Desa Meteseh, dari Desa Maguan sendiri, bahkan hingga luar kabupaten yaitu ke Desa Ndahan di Kabupaten Pati,” ujar Abdul Jalil saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Senin (18/5/2026).
Untuk musim tanam kali ini, Abdul Jalil memperkirakan total pembenihan yang dikelolanya mampu mencakup area persawahan yang cukup luas.
“Perkiraan total benih yang dipesan di tempat saya saat ini untuk musim ketiga ini bisa mencakup lahan tanam padi seluas 3 hektare,” tambahnya.
Terkait dengan skema kerja sama, Abdul Jalil menerapkan sistem paket terintegrasi.
Biaya yang dibayarkan oleh konsumen sudah mencakup keseluruhan proses, mulai dari penyediaan benih oleh pihak pengelola, hingga proses penanaman langsung di sawah milik petani.
Namun, akibat adanya kenaikan harga bahan baku utama di pasaran, ia terpaksa melakukan penyesuaian tarif pada musim ini.
”Dulu, saya mematok harga Rp600 ribu per satu kotak lahan (dengan estimasi luas area sekitar 1.400 m2). Akan tetapi, karena harga bibit dan kebutuhan lainnya mulai mengalami kenaikan, sekarang tarifnya saya naikkan menjadi Rp700 ribu per kotak. Harga tersebut sudah sistem terima jadi, mulai dari benih saya sediakan sampai penanamannya di lapangan,” urai Abdul Jalil secara rinci.
Meski menawarkan efisiensi tinggi, sistem dapok bukan tanpa tantangan.
Abdul Jalil menekankan bahwa kunci keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kondisi fisik lahan pertanian itu sendiri.
Sistem dapok menuntut persiapan lahan yang jauh lebih matang dibandingkan sistem tanam biasa.
Kendala utama yang sering dihadapi adalah kondisi permukaan tanah.
Lahan persawahan harus benar-benar rata (stabil) dan tidak bergelombang.
Kemiringan atau permukaan tanah yang tidak rata, akan mengganggu keserasian jalannya alat atau proses penanaman, sehingga hasil tancapan bibit menjadi kurang rapi.
Terlepas dari kendala teknis lahan tersebut, Abdul Jalil tetap merekomendasikan sistem dapok sebagai masa depan pertanian padi yang lebih modern.
Jika lahan dipersiapkan dengan baik, keuntungan yang didapat petani akan jauh lebih besar.
Dari segi usia tanam, benih padi yang disemai dengan sistem dapok ini umumnya siap dipindahkan ke lahan produktif ketika sudah memasuki usia 15 hingga 25 hari.
Abdul Jalil optimis bahwa sistem dapok akan terus berkembang.
“Sebenarnya, dengan sistem dapok ini penanaman padi menjadi jauh lebih serasi dan tertata rapi. Selain estetika pertumbuhan yang bagus, tanaman padi yang tertanam dengan serasi seperti ini juga menjadi jauh lebih mudah untuk dirawat dan disiangi oleh petani,” pungkasnya optimis.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar