Tradisi Ganti Luwur Mbah Sambu Dihadiri Berbagai Elemen Lintas Kota

waktu baca 2 menit
Sabtu, 30 Mei 2026 12:10 0 42 Supriyanto

REMBANG – Mondes.co.id | Suasana khidmat dan penuh berkah menyelimuti Pendopo Tejo Kusuman, Lasem, Rembang pada Jumat malam (29/5/2026).

Ratusan jemaah dan keluarga besar berkumpul dalam rangka menghadiri acara Ganti Luwur Mbah Sambu dan Mbah Srimpet yang dirangkai dengan pembacaan Manaqib.

​Acara tahunan yang sarat akan nilai sejarah dan spiritual ini, menjadi momentum penting untuk memperkuat tali silaturahmi.

Sekaligus mengenang jasa besar para ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Lasem.

​Berdasarkan pantauan di lokasi, acara yang dimulai pukul 19.30 WIB ini dipadati oleh berbagai elemen masyarakat.

Hadir dalam acara tersebut, seluruh keluarga besar keturunan (dzurriyah) Mbah Sambu, jemaah Masjid Jami’ Lasem, serta organisasi pencak silat Pagar Nusa

​Selain unsur keagamaan dan kemasyarakatan, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari PWI LS Rembang Pati dan Kudus.

Serta, Lembaga Pemantau Pelayanan Informasi Publik (LP3) yang turut mengawal jalannya kegiatan agar berjalan dengan tertib dan khidmat.

​Salah satu narasumber sekaligus keturunan ke-10 dari Mbah Sambu, Abdurrahman Sayyid atau yang akrab disapa Gus Ayik, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini dengan lancar.

Tokoh muda yang beralamat di Dukuh Jangkar, Desa Pandan, Kecamatan Pancur, Rembang ini, menilai bahwa kehadiran seluruh elemen masyarakat menunjukkan besarnya rasa hormat terhadap leluhur.

​”Alhamdulillah, seluruh keluarga besar, jemaah Masjid Lasem, sahabat-sahabat dari Pagar Nusa, hingga rekan-rekan media dan lembaga swadaya dapat hadir menyatu dalam doa bersama di Pendopo Tejo Kusuman ini,” ujar Gus Ayik saat ditemui di sela-sela acara.

BACA JUGA :  Anggaran Rp5 Miliar Disiapkan untuk Penanganan Bencana Jepara

​Bagi Gus Ayik, prosesi Ganti Luwur atau penggantian kain kelambu makam, bukan sekadar ritual fisik tahunan semata.

Tradisi ini memiliki dimensi spiritual yang mendalam, baik sebagai bentuk penghormatan (takzim), maupun sarana menyambung sanad batin dengan para Waliyullah.

 

​Ia berharap, ke depannya acara ini dapat terus dipertahankan dan dikembangkan, agar esensi kesakralannya semakin kuat terasa oleh generasi penerus.

​”Semoga dengan terciptanya rutinitas acara pergantian luwur ini, ke depan bisa dikemas dengan lebih baik dan lebih sakral lagi. Sehingga, hal ini dapat memperkuat karomah beliau yang semakin kuat, serta membawa tuah dan berkah bagi masyarakat Rembang pada umumnya, dan khususnya warga di sekitar Lasem,” harap Gus Ayik dengan penuh takzim.

​Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib yang diikuti dengan khusyuk oleh seluruh jemaah yang hadir.

Memohon kepada Allah SWT agar acara ini benar-benar menjadi wasilah keberkahan, mempererat tali silaturahmi, serta mendatangkan rahmat bagi seluruh masyarakat.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini