Jejak Kartini Modern dari Sudut Rembang, Menjahit Asa di Balik Utas Pita

waktu baca 2 menit
Selasa, 14 Apr 2026 14:03 0 55 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Semangat Kartini tak selamanya bergema di balik podium megah atau riuhnya seremoni.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Di sebuah sudut tenang Kabupaten Rembang, napas perjuangan itu berdenyut halus melalui jemari telaten seorang perempuan bernama Muamluaturrahmah.

Dengan tangan lihainya, limbah yang dianggap sebelah mata, berubah menjadi karya yang punya harga diri.

​Benih kreativitas ini tidak tumbuh dalam semalam.

ketua pgri

Perjalanan Muamluaturrahmah berakar jauh di tahun 2005, saat ia masih menjadi santriwati di Pesantren Raudhatut Thalibin.

Di bawah asuhan tokoh bangsa, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), ia tidak hanya mengaji kitab, tetapi juga “mengeja” keterampilan hidup.

​Kala itu, gairah belajarnya meluap-luap, tak ada kain yang aman dari bidikan jarum sulamnya.

​”Sampai-sampai sarung bantal dan kerudung semua disulami saking semangatnya ingin bisa,” kenangnya sambil tersenyum.

​Sembilan tahun menempa diri di pesantren, memberinya modal lebih dari sekadar teknik menyulam atau membuat bros.

Ia pulang membawa mentalitas santri mandiri dan pantang menyerah.

​Bersama sang suami, ia memulai langkah kecil yang penuh keberanian.

Memanfaatkan media sosial dan video tutorial sebagai guru kedua, dirinya terus mengevolusi desain karyanya.

Ia enggan terjebak dalam produk massal yang monoton.

​Kini, karyanya menjadi incaran berbagai kalangan.

Mulai dari organisasi sekolah, majelis taklim, hingga grup hadroh yang mencari sentuhan personalnya.

Produk unggulannya yakni bros resin berlogo khusus, menjadi simbol identitas yang prestisius bagi pemakainya.

​Bagi Muamluaturrahmah, membuat kerajinan adalah tentang menyalurkan naluri keindahan yang dimiliki setiap perempuan.

BACA JUGA :  Hujan Deras, Rumah Warga di Desa Sinanggul Ambruk

Namun, ia menekankan bahwa estetika tanpa ketelitian hanyalah hiasan kosong.

​”Membutuhkan kreativitas yang tidak asal tempel, Setiap tetes lem dan presisi detail logo adalah bukti kesabaran yang ia tenun sendiri,” tegasnya.

Meski berbasis di rumah, jangkauan karyanya telah menembus sekat geografis.

Melalui ekosistem digital dan jaringan reseller di berbagai marketplace, bros buatannya kini menghiasi jilbab ibu-ibu di berbagai daerah, menciptakan kekompakan dalam setiap perkumpulan.

​Di tangan Muamluaturrahmah, warisan Kartini bukan lagi soal kain kebaya setahun sekali.

Ini adalah tentang keberanian seorang perempuan untuk berdaya, menciptakan peluang dari perca, dan membuktikan bahwa dari kesederhanaan pesantren, bisa lahir inovasi yang mendunia.

​Ia terus menjahit harapan, satu bros dalam satu waktu membuktikan bahwa kemandirian adalah perhiasan tercantik bagi setiap perempuan.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini