Foto: Siswi SMKN 3 Jepara Ini Sukses Juarai Lomba Baca Surat Kartini (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Suasana berbeda dan sarat makna terasa dalam gelaran Lomba Baca Fragmen Surat Kartini yang diselenggarakan di Jepara.
Bukan sekadar ajang kompetisi unjuk vokal, kegiatan ini menjelma menjadi ruang pertemuan emosional antara generasi muda dengan gagasan besar Raden Ajeng Kartini yang melampaui zamannya.
Sebanyak 33 pelajar dari berbagai sekolah di Jepara ambil bagian dalam acara ini.
Mereka membacakan penggalan surat-surat Kartini yang ditulis dalam rentang tahun 1898 hingga 1904.
Surat yang selama ini dikenal sebagai cermin kegelisahan, keberanian, dan pemikiran emansipatif seorang perempuan muda di tengah kungkungan tradisi feodal.
Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Mohamad Adjib Ghufron, menegaskan bahwa penilaian lomba ini tidak sebatas pada teknik membaca.
Lebih dari itu, peserta didorong untuk benar-benar menyelami jiwa pahlawan emansipasi tersebut.
“Yang kami tekankan, peserta tidak hanya membaca, tetapi merasakan. Bagaimana seorang perempuan yang sedang dipingit bisa memiliki pemikiran yang jauh melampaui zamannya,” ujar Adjib.
Menurutnya, kegiatan ini adalah langkah konkret untuk menginternalisasi nilai-nilai perjuangan Kartini kepada generasi muda Gen Z.
Rangkaian kata yang ditulis lebih dari seabad lalu itu, kini dihidupkan kembali melalui suara dan penghayatan para pelajar.
Dari puluhan peserta yang tampil, dewan juri akhirnya menetapkan tiga pembaca terbaik.
Juara 1: Khansa Aprillia Novianny (SMKN 3 Jepara)
Juara 2: Neisya Dafina (SMAN 1 Tahunan)
Juara 3: Dinara Mysha Ayu Hapsari (MA Darul Hikmah Jepara)
Bagi Khansa, kemenangannya menempati posisi puncak, terasa jauh dari kata instan.
Tiga hari menjelang hari-H, ia justru sempat kehilangan suaranya.
Bahkan, saat menghadiri technical meeting, kondisinya belum pulih seratus persen.
Meski begitu, siswi kelas X jurusan Desain dan Komunikasi Visual (DKV) ini memilih pantang mundur.
Latihan ia lakukan secara mandiri di rumah hanya di depan cermin, tanpa pelatih khusus maupun penonton.
“Aku nggak pernah latihan di depan orang. Cuma di depan cermin, fokus ke vokal sama pengucapan (artikulasi),” kisahnya, Jumat (17/4/2026).
Guna mendapatkan nyawa dari teks yang dibacanya, Khansa menonton film biografi Kartini di YouTube sehari sebelum tampil.
“Sebelumnya belum dapet feeling-nya. Setelah nonton, baru benar-benar terasa,” tambahnya.
Pada saat lomba, Khansa membawakan fragmen surat Kartini yang ditujukan kepada Stella Zeehandelaar, tertanggal 18 Agustus 1899.
Surat itu berisi penolakan tegas Kartini terhadap formalitas adat Jawa yang mengekang perempuan, sekaligus seruan akan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.
Di atas panggung, siswi kelahiran 2 April 2010 ini tampil sederhana, namun memancarkan aura yang kuat.
Mengenakan kebaya janggan berpadu bawahan batik kawung, busana yang menegaskan karakter teguh sang tokoh.
Penampilannya diawali dengan menarik kursi, memberi hormat kepada dewan juri, lalu duduk tenang dan membaca selama kurang lebih delapan menit.
“Sempat ada rasa minder lihat peserta lain yang sangat percaya diri, tapi aku berusaha bikin diriku nyaman saja,” akunya jujur.
Momen tak terlupakan terjadi saat pengumuman juara.
Mengira dirinya tak masuk nominasi, Khansa bahkan sudah membereskan tas untuk bersiap pulang.
Ia terkejut bukan main saat namanya dipanggil sebagai Juara 1.
Darah seni dan literasi rupanya sudah mengalir dalam diri Khansa sejak kecil.
Putri asal Desa Pulodarat, Kecamatan Pecangaan ini gemar membaca sejak Taman Kanak-Kanak (TK) dan kerap mendongeng untuk orang-orang di sekitarnya.
Di sekolah, ia juga aktif sebagai Wakil Ketua OSIS dan anggota Pramuka.
Ia pun memiliki hobi memasak, serta pernah menekuni kesenian karawitan saat duduk di bangku SMP.
Menariknya, Khansa mengaku pemahamannya tentang sosok Kartini menjadi jauh lebih dalam justru setelah mengikuti lomba ini.
“Saya jadi sangat kagum. Kartini itu sosok yang berani menentang hal yang salah, tapi menyampaikannya dengan cara yang tetap lembut,” pungkasnya.
Lomba baca fragmen ini dinilai sukses menjadi magnet edukasi bagi para pelajar.
Dengan pendekatan sastra dan seni yang tidak kaku, nilai-nilai perjuangan R.A. Kartini terbukti mampu hadir lebih dekat, menyentuh, dan relevan bagi generasi muda masa kini.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar