Seni Ukir Jepara Cetak Sejarah Baru di Museum Nasional

waktu baca 3 menit
Kamis, 30 Apr 2026 10:33 0 31 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Pameran seni ukir berskala nasional bertajuk TATAH 2026 resmi dibuka.

Mengusung tema besar “Suluk – Sulur – Jepara”, pameran digelar di Museum Nasional Indonesia mulai 29 April hingga 5 Juli 2026.

Gelaran ini membawa misi besar, yakni melepaskan mahakarya ukiran Jepara dari citra komoditas massal menuju panggung seni murni (fine art) bernilai tinggi.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam pidato pembukaannya, menyoroti pencapaian artistik dan akar sejarah tradisi ukir Nusantara yang begitu panjang.

“Seni ukir Jepara ini sudah berakar panjang di dalam sejarah kita. Paling tidak sudah berusia 500 tahun lebih yang diawali dari ukiran-ukiran bersejarah di Masjid Mantingan,” ujar Fadli Zon.

Ia menambahkan, karya-karya yang dipamerkan dalam TATAH 2026 menunjukkan tingkat keterampilan yang luar biasa.

Fadli berharap, pameran ini mampu membuka mata masyarakat luas bahwa talenta seniman Indonesia sangat luar biasa pada medium kayu, bukan hanya di atas kanvas.

Kurator pameran, Suwarno, menjelaskan makna mendalam di balik pemilihan tajuk “Suluk – Sulur – Jepara” yang telah dirancang dan dimatangkan selama satu tahun terakhir.

“Seni ukir tidak hanya persoalan kepiawaian dan keterampilan, tetapi juga soal pengetahuan, laku, bahkan laku asketik. Sebuah pertapaan estetik dalam mengkreasi bentuk,” jelas Suwarno.

Ia menegaskan, pengunjung tidak akan menemukan produk yang sekadar melayani pesanan konsumen industri di pameran ini.

“Bapak Ibu akan menemukan karya dari seniman-seniman pada level maestro yang bekerja dan berkarya murni atas dorongan ekspresi pribadi,” terangnya.

BACA JUGA :  Unggulan Prodi Ilmu Sejarah Unnes, Public History Dinilai Memiliki Masa Depan Bagus

Pernyataan tersebut diamini oleh Bupati Jepara, Witiarso Utomo.

Ia menyebut, tatah (alat pahat) bukan sekadar perkakas kerja, melainkan entitas spiritual bagi para seniman.

“Tatah adalah perpanjangan tangan, laku spiritual, dan jiwa para pengukir. Dari setiap ketukannya, lahir karya yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna,” kata Witiarso.

Ia juga menekankan pesan kuat bagi dunia luar.

Jepara tidak hanya menghasilkan produk, namun memproduksi makna, identitas, dan peradaban.

Masuknya seni ukir ke ruang pamer Museum Nasional, menjadi sejarah baru bagi industri furnitur dan kerajinan.

Ketua Umum HIMKI Pusat, Abdul Sobur, memberikan apresiasi tertinggi atas terobosan ini.

“Kami menyadari bahwa di lapangan, karya-karya ukir kami memang menjadi produk yang diperdagangkan. Tetapi hari ini, ukir Jepara menempati posisi tertingginya, bukan sekadar di galeri, tapi di museum,” ungkap Sobur.

Ia juga mengingatkan bahwa ekosistem ukir ini menjadi tumpuan hidup bagi ratusan ribu tenaga kerja di Jepara Raya.

Di sisi lain, Ketua Pelaksana TATAH 2026, Veronica Rompies, memberikan penghormatan khusus kepada para seniman di akar rumput.

Di balik gemerlapnya pameran di ibu kota, ada para penjaga warisan yang bekerja dalam diam tanpa sorotan kamera.

“Di sudut-sudut desa di Jepara, ada tangan-tangan pengukir yang konsisten berkarya karena cintanya pada seni ini. Meski nama mereka tidak selalu dikenal atau didengar, sesungguhnya kepada merekalah kita memiliki utang budi,” tutur Veronica dengan haru.

Lebih jauh, ia berharap pameran ini membawa dampak konkret yang tidak berhenti pada seremoni semata.

“Kami berharap dampak TATAH dapat dirumuskan menjadi sebuah sistem yang membuahkan solusi nyata untuk kelayakan, keberlanjutan, dan kesejahteraan para pahlawan ukir penjaga warisan ini,” pungkasnya.

BACA JUGA :  Truk Material di Jalur Rembang–Blora Tak Luput Sasaran Operasi Zebra Candi 2025

Acara pembukaan yang megah di Museum Nasional Indonesia ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting.

Di antaranya, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era 1993-1998 Wardiman Djojonegoro, sejumlah duta besar negara sahabat, serta para tokoh nasional dan seniman terkemuka.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini