Foto: Suci Indriani, pemain sepak bola asal Desa Tireman (Mondes/Supriyanto) REMBANG – Mondes.co.id | Gemuruh sorak penonton di pinggir lapangan hijau Kabupaten Rembang biasanya hanya tertuju pada liukan bola.
Namun, belakangan ini ada pemandangan berbeda yang mencuri perhatian.
Di tengah tensi tinggi pertandingan antar kampung (tarkam), seorang perempuan muda berdiri tegak dengan bendera di tangan.
Ia adalah Suci Indriani, representasi nyata bahwa semangat Kartini kini tak lagi hanya bergema di ruang domestik, melainkan hingga ke rumput stadion.
Perempuan 22 tahun asal Desa Tireman ini bukanlah “pemanis” di sela-sela pertandingan.
Sebagai pemegang lisensi C3, Suci memiliki otoritas penuh untuk menentukan offside atau pelanggaran di garis lapangan.
Mahasiswi jurusan olahraga Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini, mengaku pilihannya terjun ke dunia perwasitan adalah muara dari kecintaan mendalam pada sepak bola.
“Karena saya suka bermain sepak bola dan kuliah pun di bidang olahraga, jadi saya merasa terpanggil untuk mendalami dunia wasit,” tutur Suci dengan nada mantap.
Menjadi wasit di level tarkam bukanlah perkara mudah.
Tekanan suporter dan kecepatan permainan menuntut fisik yang prima.
Selama tiga bulan pelatihan intensif, Suci digembleng untuk melampaui batas fisiknya.
Bagi Suci, kursus wasit bukan sekadar urusan administrasi atau lisensi, melainkan pendewasaan karakter.
Ia belajar bagaimana tetap tenang di bawah tekanan, mengambil keputusan dalam hitungan detik, dan membangun kepercayaan diri di tengah dominasi laki-laki.
Perjalanan Suci mencapai tonggak bersejarah pada Maret 2022.
Ia dipercaya menjadi bagian dari perangkat pertandingan di Piala Pertiwi Semarang.
Pengalaman memimpin turnamen resmi tersebut menjadi bahan bakar bagi mimpinya yang lebih besar.
Ke depan, Suci tak ingin berhenti sampai di sini.
Ia bertekad melanjutkan kursus untuk meraih lisensi C2 agar bisa memimpin pertandingan di tingkat provinsi.
Tekad tersebut semakin kuat berkat dukungan keluarga yang selalu memberi semangat dalam setiap langkahnya.
Di tangan Suci Indriani, peluit dan bendera wasit adalah simbol kesetaraan.
Ia membuktikan bahwa perempuan Rembang mampu berdiri sejajar, menembus batas profesi yang selama ini dianggap kaku bagi perempuan.
Suci adalah pengingat bagi kita semua bahwa menjadi tangguh tidak selalu berarti harus ikut bermain, tapi terkadang berarti menjadi hakim yang adil bagi permainan itu sendiri.
Semangat Kartini, hari ini, berpijak di atas rumput lapangan hijau.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar