Foto: Sejumlah komunitas grup gay di media sosial Facebook (Mondes/Supriyanto) REMBANG – Mondes.co.id | Fenomena maraknya grup dan komunitas menyimpang di berbagai platform media sosial, kian meresahkan masyarakat di berbagai daerah.
Berdasarkan hasil penelusuran di jagat maya, kelompok-kelompok tersebut tersebar di berbagai wilayah dengan jumlah anggota yang fantastis mencapai ribuan orang.
Salah satu yang tengah menjadi sorotan tajam adalah temuan grup serupa di wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang disinyalir memiliki anggota lebih dari seribu akun.
Keresahan ini bukan sekadar isu hampa, di lapangan, indikasi agresivitas oknum dari komunitas tersebut mulai dirasakan langsung oleh masyarakat umum, bahkan menyasar para penyedia jasa pelayanan profesi.
Keberadaan jaringan ini dikonfirmasi oleh salah seorang praktisi pengobatan alternatif asal Desa Maguan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, yang akrab disapa Mas Pri.
Ia menceritakan pengalaman mengejutkan yang dialaminya beberapa bulan lalu dan kembali teringat setelah ramainya perbincangan publik baru-baru ini.
“Pagi tadi aku melihat grup WhatsApp ramai banget yang membahas komunitas gay di Rembang. Aku jadi teringat beberapa bulan lalu sempat ada seseorang yang berkonsultasi terkait keluhan ejakulasi dini lewat WhatsApp,” ungkap Mas Pri.
Awalnya, percakapan berlangsung normal layaknya pasien yang mencari kesembuhan.
Mas Pri pun merespons konsultasi medis tersebut secara profesional.
Namun, setelah seluruh keluhan kesehatan dijawab, oknum pasien tersebut justru mengirimkan pesan penutup yang tidak senonoh dan menjurus pada ajakan seksual.
“Habis terapi main sama kamu ya (sek)?” bunyi pesan singkat yang dikirimkan oknum tersebut.
Membaca pesan bernada pelecehan itu, Mas Pri mengaku tersentak dan merasa tidak nyaman.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil tindakan tegas untuk melindungi diri.
“Sontak aku kaget. Jelas tidak nyaman, langsung saja nomor tersebut tak blokir tanpa membalas pesannya lagi,” tegasnya.
Meluasnya fenomena ini memicu kekhawatiran besar di tengah masyarakat Rembang.
Warga khawatir jika tidak ada penanganan serius, komunitas ini akan terus berkembang secara terselubung dan berdampak negatif pada norma sosial serta kesehatan masyarakat.
Menyikapi informasi terkait jumlah anggota komunitas yang disinyalir telah mencapai ribuan orang, elemen masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Rembang untuk segera turun tangan.
Langkah preventif dan kuratif yang komprehensif sangat dinantikan, guna memetakan serta mengatasi fenomena ini.
Masyarakat berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat melakukan langkah-langkah strategis.
Yakni dengan pembinaan sosial, seperti mengedukasi masyarakat dan melakukan pengawasan wilayah agar norma-norma sosial tetap terjaga.
Selanjutnya, edukasi dan layanan kesehatan, dengan melakukan screening dan penyuluhan mengenai risiko penyakit menular seksual (PMS) yang rentan terjadi di komunitas tersebut.
Lalu, pendampingan psikologis dengan menyediakan layanan konseling bagi individu yang ingin keluar dari lingkaran komunitas tersebut agar mendapatkan penanganan psikologis yang tepat.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap pihak berwenang dan tokoh agama dapat bersinergi untuk membentengi wilayah Rembang dari dampak negatif penyebaran komunitas serupa di media sosial.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar