REMBANG – Mondes.co.id | Menanggapi adanya aduan masyarakat terkait indikasi pencemaran lingkungan berupa limbah cair berwarna pekat dan aroma tidak sedap di saluran air, pihak pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Rembang segera mengambil langkah konkret. Penanganan ini difokuskan pada perbaikan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk memastikan operasional dapur tetap ramah lingkungan.
Person in Charge (PIC) Yayasan Semendhe Kanthi Kanthil (YSKK), Joko Siswoyo memberikan klarifikasi mendalam terkait situasi tersebut. Menurutnya, pihak yayasan telah bergerak melakukan pengecekan dan perbaikan menyeluruh sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Mengenai pemberitaan yang menyebutkan adanya limbah hitam pekat, Joko Siswoyo menjelaskan bahwa kondisi di lapangan tidaklah separah yang digambarkan. Ia mengakui sempat muncul aroma yang kurang sedap, namun hal itu disinyalir terjadi saat proses teknis tertentu.
”Sebenarnya tidak terlalu hitam pekat. Mengenai bau, mungkin itu muncul pada saat proses penyedotan. Namun, kami tidak tinggal diam dan langsung melakukan langkah perbaikan,” ujar Joko Siswoyo saat memberikan keterangan.
Sebagai solusi jangka panjang dan sesuai dengan arahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pihak yayasan telah memutuskan untuk memperbarui sistem pengolahan limbah mereka.
Saat ini, proses pemasangan unit IPAL Portable yang lebih modern sedang berlangsung di beberapa titik.
Joko menjelaskan bahwa keberadaan IPAL adalah prioritas utama bagi operasional yayasan. Oleh karena itu, pihaknya meminta mitra terkait untuk segera melakukan pengadaan dan pemasangan alat yang standar.
”Hari ini sudah ada pemasangan IPAL Portable. Kami bergerak cepat mengikuti arahan dari DLH kemarin agar masalah ini segera teratasi dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari,” tambahnya.
Proses perbaikan dan pemasangan ini ditargetkan selesai dalam satu hingga dua hari ke depan. Joko menegaskan bahwa yayasan berkomitmen untuk patuh dan tunduk pada aturan lingkungan yang berlaku, mengingat saat ini masalah pengelolaan limbah sedang menjadi perhatian serius masyarakat luas.
Untuk wilayah Rembang sendiri, perbaikan dilakukan secara simultan di sekitar tiga titik lokasi. Langkah ini diharapkan dapat menjadi standar baru bagi pengelolaan dapur di bawah naungan yayasan.
”Ke depannya, kami akan selalu memantau kondisi dapur secara berkala, mulai dari distribusi bahan baku hingga sistem pembuangan limbahnya. Kami ingin memberikan contoh yang baik bagi pengelolaan dapur lainnya agar tetap bersih dan tidak mengganggu kenyamanan warga,” pungkas Joko.
Redaksi
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar