Gunretno Sayangkan Aksi Pembakaran Spanduk saat Peringatan Hari Anti Tambang

waktu baca 2 menit
Jumat, 29 Mei 2026 14:58 0 132 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang dipimpin oleh aktivis Teguh Istiyanto dan Supriyono datang mengikuti aksi Hari Anti Tambang pada Jumat, 29 Mei 2026.

Aksi ini berlangsung di depan Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Pati.

Kedatangan AMPB ini sebagai solidaritas antar elemen dalam mendesak ketegasan Aparat Penegak Hukum (APH).

Sayangnya, keterlibatan mereka di unjuk rasa tersebut justru membuat suasana memanas di bawah sengatan matahari.

Supriyono alias Botok dan massa AMPB, Sutikno alias Paijan Jawi datang membawa spanduk besar bergambar wajah Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi.

Ia membentangkan spanduk di gerbang Kantor Setda Pati, kemudian membakarnya.

Tak berlangsung lama, polisi langsung memadamkan gelombang api yang membakar gambar wajah Kapolresta Pati hingga tampak separo.

Adanya tingkah tersebut, ditanggapi oleh Gunretno selaku Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Menurutnya, pembakaran gambar wajah Kapolresta Pati tidak masuk dalam konsep aksi yang seharusnya berlangsung damai itu.

“Kami tekankan tidak ada pembakaran,” ungkapnya ketika diwawancarai awak media usai aksi unjuk rasa.

Ia pun berasumsi jika pembakaran spanduk itu merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kinerja Polresta Pati.

Namun, aksi yang dilakukan JMPPK selama bertahun-tahun tetap menjunjung tinggi kerukunan dan pesan damai.

Pria dengan sapaan Kang Gun juga menegaskan bahwa sorotan lebih ke kinerja kepolisian, bukan pada aktor pembakar spanduk.

Ia tak ingin isu pembakaran mengalihkan isu terhadap penolakan tambang ilegal di Pegunungan Kendeng.

BACA JUGA :  Jaga Marwah Leluhur, Sarasehan Budaya Donorojo Satukan Seniman hingga Juru Kunci Makam

“Ini alarm besar karena kejengkelan terhadap persoalan yang ditangani polisi tidak selesai, kami akan koordinasi dengan pihak (AMPB) yang melakukan itu. Ini bukan selesai pada pembakarannya, tapi bagaimana kasus (tambang ilegal) ini diselesaikan, kami ajak menemukan penyelesaian yang baik,” terang tokoh Sedulur Sikep itu.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini