Foto: siswi perempuan Jepara tampak begitu lincah dan bertenaga mengayunkan palu serta mengendalikan pahat (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Serambi belakang Pendopo Kabupaten Jepara riuh oleh pemandangan memukau pada Hari Kartini, 21 April 2026.
Di balik keanggunan balutan kebaya yang mereka kenakan, puluhan siswi perempuan tampak begitu lincah dan bertenaga mengayunkan palu serta mengendalikan pahat.
Lewat tangan-tangan lentik merekalah, keindahan seni ukir khas Jepara perlahan terbentuk di atas kayu.
Tidak kurang dari 50 srikandi cilik dan remaja, mulai dari bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), berpartisipasi dalam ajang memahat massal ini.
Acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara tersebut menjadi cara yang unik dan bermakna dalam merayakan Hari Kartini.
Bukan sekadar perayaan seremonial, kegiatan ini adalah panggung pembuktian bahwa anak-anak perempuan Jepara memiliki bakat alamiah dan kepiawaian yang tak kalah hebat dalam mewarisi tradisi leluhur mereka.

Salah satu potret antusiasme itu terlihat pada Adelia Az-Zahra (11), siswi kelas 5 SDN 1 Panggang Jepara.
Meski bertubuh mungil dan baru tiga kali memegang alat ukir, ia tampak fokus memahat kayunya.
“Agak sedikit sulit memang, tapi seru! Saya ingin belajar mengukir lagi,” ceritanya dengan mata berbinar, membuktikan bahwa regenerasi pengukir perempuan di Jepara masih memiliki harapan cerah.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat mengatakan, peringatan Hari Kartini tahun ini menjadi etalase kebanggaan bagi Kabupaten Jepara.
Perpaduan antara edukasi sejarah, pemberdayaan perempuan dalam seni ukir, semuanya dikemas menjadi atraksi budaya yang hidup.
“Kegiatan ini adalah wujud nyata pelestarian kebudayaan yang dinamis. Perempuan-perempuan Jepara, dari anak-anak hingga dewasa, tidak hanya merawat memori kolektif tentang R.A. Kartini, tetapi juga secara aktif menghidupkan kembali denyut nadi seni ukir yang menjadi kekuatan pariwisata dan kebudayaan kita,” kata dia.
Yayasan Pelestari Ukir Jepara Rumini (47) mengungkapkan, minat generasi muda perempuan terhadap seni ukir mulai menyusut, momen Hari Kartini dirasa tepat untuk kembali memantik semangat tersebut.
“Alhamdulillah di momen Kartini ini kita bisa mengajak anak-anak perempuan untuk kembali mengenal dan mencintai ukir,” ungkap Rumini.
Ia menekankan bahwa profesi pengukir sering kali dipandang lekat dengan pekerjaan maskulin.
Padahal, dengan ketelatenan dan kesabaran ekstra yang dimiliki perempuan, karya yang dihasilkan mampu bersaing.
“Jika mau belajar sungguh-sungguh, hasil ukiran perempuan bisa setara, bahkan sangat bagus. Semua kembali pada skill dan kemauan,” tegasnya.
Lebih jauh, Rumini menyoroti bahwa ukir bukan sebatas identitas budaya, melainkan urat nadi perekonomian Jepara.
Bagi perempuan, profesi ini menawarkan fleksibilitas yang luar biasa.
“Ini pekerjaan yang sangat menjanjikan. Istimewanya, bisa dikerjakan di rumah. Bisa sambil momong anak atau mengurus rumah tangga, sehingga keluarga tetap terurus dengan baik namun roda ekonomi tetap berputar,” tambahnya.
Aksi nyata para siswi Jepara ini turut memantik apresiasi dari Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Mugiyanto Sipin.
Ia memuji langkah Pemkab Jepara yang merayakan Hari Kartini melalui aksi pemberdayaan yang konkret.
Menurutnya, perayaan Hari Kartini sudah semestinya melampaui simbolisme pakaian adat, dan lebih menukik pada esensi pemikiran sang pahlawan tentang kemandirian dan kesetaraan.
“Kartini itu lebih dari sekadar kebaya. Pikiran-pikiran beliau harus menginspirasi perempuan Jepara, Indonesia, bahkan dunia, agar menjadi individu yang berdaya dan mampu berkontribusi nyata bagi ekonomi keluarga serta kemajuan bangsa,” kata dia.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar