Ujian Berat Saat Pertama Masuk Pondok Pesantren, Ini Curahan Hati Santriwati


PATI-Mondes.co.id| Hidup menjadi seorang santri memiliki cerita dan kesan tersendiri bagi Rachma Auraline Rizqika. Anak perempuan berumur 13 tahun asal satu desa di Kabupaten Pati, mau menceritakan kehidupannya saat ini dia tinggal di Pondok Pesantren.

Perjalanan menjadi seorang santriwati tentu memberikan warna yang berbeda, karena banyak sekali cerita yang tidak bisa didapatkan ketika hidup di luar pesantren.

Semenjak lulus dari Sekolah Dasar (SD), Aline panggilan akrabnya memang ingin sekali mondok (biar pinter ilmu agama katanya), walaupun banyak yang menganggap pondok itu seperti penjara yang mengekang kebebasan dan banyak sekali peraturannya.

“Saat pertama kali saya masuk, rasanya sudah tidak betah, malem pertama saya nangis ingin pulang saja. Mana tak ada yang saya kenal ditempat ini, teman sekamar baru semua, tak ada satupun yang saya kenal. Udah gitu, banyak sekali peraturan yang harus ditaati disini. Seminggu berlalu saya ingin pulang dan tak mau mondok lagi,” ungkap Aline sambil sedih kala menceritakan awal mondok.

Minggu pertama berlalu, dirinya sedih ketika orang tua menyambanginya, dia mengatakan tidak kerasan dan berkata seperti dikurung dalam sangkar. Tak hanya itu peraturannya yang sangat disiplin. Menurutnya ini adalah kurungan suci bagi santri.

“Alhamdulillah sudah banyak mengenal teman, rasa tak betah akhirnya hilang. Namun saat kedua orang tua menyambangi pertama kalinya, betapa sedihnya saya. Air mata pun tak terbendung mengalir, mama saya nangis tersedu-sedu hingga saya terlontar kata-kata boyong karena tidak kerasan kala itu,” kata Aline sambil menahan sedih.

Ketika itu sewaktu dinyatakan lulus Sekolah Dasar (SD), orang tua langsung melakukan survei dari beberapa referensi Pondok Pesantren. Mulai yang terdekat sampai yang jauh. Dengan penuh pertimbangan akhirnya mendapatkan sekolahan yang dekat dengan Pondok.

“Survei ke beberapa tempat, saya bersama orang tua mendapatkan tempat Pondok Pesantren yang saya pikir sepertinya cocok di tempat ini. Dan saya akan nyaman berada di tempat ini, tempatnya tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar 15 menit ditempuh jalan kaki,” ungkap Aline.

Saat ini sudah 7 bulan berjalan menimba ilmu di Ponpes, rasanya sudah sangat nyaman dan betah. Mungkin sudah terbiasa dengan kehidupan pondok, walaupun awalnya ada hawa ingin sekali pulang ke rumah.

“Saya berada di pesantren sudah 7 bulan rasanya sudah banyak sekali pengalaman serta kesan yang saya dapat di sini. Bagi saya pondok pesantren memberikan pelajaran yang sangat berarti,” katanya.

Menurutnya, Hidup di pesantren bisa mengajarkan bagaimana hidup mandiri. Harus jauh dari orang tua, kakak, saudara, bahkan teman main dirumah yang selalu menemani.

“Memang di pondok pesantren saya tidak merasakan kasih sayang secara langsung dari orang tua, namun istimewanya di pondok pesantren adalah saat kita merasakan kasih sayang dan kebersamaan dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga sendiri,” ungkapnya.

Diakuinya, kegiatan didalam pondok pesantren sangatlah padat, harus bangun dari Pukul 03.00 WIB pagi untuk salat malam, dilanjut salat berjemaah subuh, setalah itu mengaji hingga pukul 05.30 WIB pagi, dan lanjut bersiap-siap untuk ke sekolah, sepulang sekolah rapi-rapi untuk persiapan mengaji sore. Nanti pukul 22.00 WIB baru mulai tidur kembali.

“Ya sebenernya hidup di pondok itu enak, cuma belajar, sekolah, ngaji, makan, tidur tapi banyak banget orang yang gak betah tinggal di pesantren termasuk saya kala itu saat awal pertama kali masuk,” ujarnya.

Setiap hari penuh kebersamaan antar santriwati yang sangat kuat. Jika waktu disambang tiba, banyak orang tua santriwati yang datang untuk menyambangi anaknya, pasti wali santri tersebut membawakan nasi untuk anaknya serta santriwati lainnya yang tinggal sekamar.

“Dari bungkusan itulah kebersamaan santri sangat terlihat, sebelum makan kami menyatukan bungkusan nasi itu menjadi satu sehingga bisa makan sama-sama, sampai berebut karena saking ramainya, tapi itu sudah menjadi hal biasa sehingga menjadikan sebuah kebersamaan semakin erat,” ungkapnya kembali.

Kebanggaan hidup di pesantren mulai dirasakan, sedikit demi sedikit tahu ilmu agama.

“Saya bangga hidup di pesantren karena di pesantren saya diajarkan untuk hidup sederhana. Saya bangga hidup di pesantren karena saya bisa merasakan nikmatnya kebersamaan yang tidak bisa saya dapatkan ketika hidup di luar. Saya bangga hidup di pesantren karena saya dididik untuk menjadi insan yang islami. Dan saya bangga hidup di pesantren karena dari pesantren saya tahu bahwasanya ilmu dunia serta akhirat harus seimbang agar tak salah melangkah nantinya,” jelasnya.

Bersambung…..

(As/Mondes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.