KHAWATIR: Ketua Komunitas Sukolilo Bangkit, Slamet Riyanto diwawancarai awak media. (Mondes/Singgih)
PATI – Mondes.co.id | Ketua Komunitas Sukolilo Bangkit, Slamet Riyanto sudah beberapa kali mengingatkan pemilik galian tambang dan kepolisian setempat tentang bahayanya beroperasi di area Desa Pakem, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Ia sering memberi laporan kepada Kepolisian Sektor (Polsek) Sukolilo mengenai tanda-tanda bahaya longsoran material dari Pegunungan Kendeng.
Semua itu terbukti, pada 30 April 2026 kemarin ada peristiwa longsoran material galian C di Desa Pakem. Kejadian mengerikan itu menimpa sopir truk pengangkut material yang bekerja di lokasi hingga tewas.
“Puasa kemarin lapor, tidak ada tindakan. Setelah Lebaran kita lapor lagi. Bahkan dua hari sebelum longsor sudah kita laporkan melalui WhatsApp (WA) maupun telepon ke Intel Polresta (Kepolisian Resor Kota) Pati, belum ada tindakan sama sekali,” ungkapnya saat diwawancarai awak media kemarin.
Pihaknya meminta agar Polresta Pati segera turun memperingatkan para penambang tak berizin agar berhenti beroperasi. Pasalnya, mereka sangat merugikan masyarakat.
“Sukolilo Bangkit minta polisi turun tangan melakukan investigasi. Karena sekarang masih, bukti ada, pelaku yang menelan korban nyawa tidak ada tindakan, bukti ada alat berat ada, kita antisipasi sebelum terjadi (kecelakaan),” ujarnya.
Ia mengungkap hasil galian itu bukan untuk kepentingan masyarakat Kecamatan Sukolilo, melainkan dibawa ke luar daerah. Penambang itu datang hanya mengambil sumbe daya di Pegunungan Kendeng.
“Kejadian di Pakem bukan untuk pembanunan rumah, hasilnya ke luar seperti Grobogan, Kudus, Solo Fakta di lapangan tidak ada izin sama sekali,” pungkas Slamet.
Redaksi
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar