Deteksi Dini Cegah Radikalisme bagi Pelajar Pati Berlangsung

waktu baca 3 menit
Senin, 27 Apr 2026 16:01 0 43 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Sosialisasi pencegahan radikalisme di kalangan pelajar berlangsung di Kabupaten Pati pada hari ini, Senin, 27 April 2026.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Pati mendapat penyuluhan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pati dan Densus 88 Anti Teror Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Pati, Niken Tri Meiningrum, menjelaskan acara ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan dini terhadap bibit-bibit radikalisme di kalangan remaja.

“Sosialisasi pencegahan radikalisme di kalangan remaja ini kami bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati yang menghadirkan Densus 88 Anti Teror. Sasarannya SMP negeri dan swasta di Kabupaten Pati,” ungkapnya di sela-sela kegiatan.

ketua pgri

Pihaknya juga mengantisipasi adanya penyebaran informasi yang berbahaya melalui media sosial (medsos).

Terlebih, saat ini medsos menjadi sarana paling sering diakses oleh remaja hingga anak-anak.

Menurutnya, peran serta orang tua dan pihak sekolah sangat vital untuk mendampingi anak dan remaja.

Pendampingan intensif harus dilakukan supaya remaja tidak terjerumus memahami gagasan yang berbahaya.

“Tujuannya mengantisipasi kewaspadaan dini terjadi radikalisme yang sementara ini sudah mengarah ke anak-anak melalui medsos. Ini menjadi perhatian kita semua, baik orang tua dan guru di sekolah agar pengawasan kepada anak perlu ditingkatkan. Anak-anak sekarang haus informasi, makanya langkah ini agar tidak menimbulkan permasalahan dari luar, apalagi sampai arah radikalisme,” terangnya.

Ia menyampaikan bahwa pelajar Kabupaten Pati masih aman dari paham radikalisme.

BACA JUGA :  Dua Remaja Bonyok Usai Ojing Dangdut di Srikaton, Polisi Selidiki

Untuk itu, diharapkan sosialisasi ini akan diteruskan dengan pendampingan orang tua secara lebih masif, supaya generasi muda di Bumi Mina Tani tetap memegang nilai-nilai Pancasila.

“Harapannya dari awal kita antisipasi agar tidak terjadi di Pati. Dan harapan kami tidak hanya di sini, nanti akan ditindaklanjuti sampai ke siswa melalui peran serta sekolah,” urai Niken.

Di tempat yang sama, narasumber dari Densus 88 Anti Teror Polri, memaparkan sejak September sampai Desember 2025 ada ratusan pelajar yang terpapar radikalisme dan ekstrimisme, sehingga perlu ada intervensi hukum.

“Kita dari kantor ada program sosialisasi masuk ke sekolah-sekolah mendalami fenomena anak sekolah yang terpapar paham radikalisme dan ekstrimisme. Sejak 2025 sudah ada ratusan pelajar yang melakukan tindakan akibat terpapar radikalisme dan ekstrimisme bahkan melakukan tindakan nyata, termasuk di Jakarta dan Kalimantan,” ungkap Iptu Reza Permana Putra dari Unit Identifikasi dan Sosialisasi Pencegahan Densus 88 Anti Teror Polri kepada awak media.

Ia menyampaikan, paparan negatif itu datang melalui tautan-tautan serta live chat pada game online.

Pasalnya, game online sangat digandrungi anak muda.

“Pendalaman kita dari game online seperti Free Fire, Roblox, PUPG, Mobile Legend, biasanya ada aktor intelektual yang menebar radikalisme di live chat dengan mengirimkan link yang akhirnya memasukkan kontak yang bersangkutan masuk grup-grup tertentu,” bebernya.

Menurut pengamatannya, ciri-ciri anak yang terpapar paham tersebut sulit dikenali.

Bahkan, beberapa kasus ia menemukan anak yang terpapar radikalisme cenderung menyendiri dari pergaulan.

“Paling banyak anak SMP karena rasa ingin tahunya tinggi, mereka mau tahu hasrat untuk menemukan, dan sudah kejadian. Di Pemalang ada yang dibaiat ISIS (Iraq Syiria Islamic State),” urainya.

BACA JUGA :  Tidak Ada Alasan Anak Kurang Mampu Tak Bisa Kuliah 

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini