Kesenian Tayub Masih Jadi Favorit dalam Tradisi Sedekah Bumi Rembang

waktu baca 3 menit
Sabtu, 25 Apr 2026 09:38 0 71 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Memasuki bulan Selo atau sering disebut bulan Apit dalam kalender Jawa, gema syukur mulai membahana di sejumlah pelosok Kabupaten Rembang.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Meski zaman terus bergerak menuju era digital dan modernisasi menyentuh sendi-sendi kehidupan desa, tradisi Sedekah Bumi tetap tegak berdiri sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

​Pantauan di lapangan, menunjukkan semarak perayaan ini tersebar di beberapa titik.

Masyarakat setempat tumpah ruah menyaksikan pagelaran ketoprak maupun tayub di punden desa.

ketua pgri

Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Seperti perayaan sedekah bumi Desa Jukung di Kecamatan Bulu yang memiliki warna tersendiri tidak luntur oleh waktu.

Di tengah kepungan hiburan modern, desa ini tetap konsisten menghadirkan kesenian tayub sebagai sajian utama.

Suara gending gamelan yang bertalu-talu dan tarian para ledhek (penari Tayub), menjadi magnet yang menyatukan seluruh warga, dari yang tua hingga generasi-Z.

​Bagi warga Jukung, tayub bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari identitas kultural yang sakral.

Kehadiran seni ini dianggap sebagai syarat pelengkap yang memberikan ruh pada prosesi adat tersebut.

​Beberapa tokoh masyarakat memberikan pandangannya mengenai eksistensi tradisi ini di tengah perubahan zaman.

Harsono, masyarakat Desa Jukung, menyampaikan bahwa kesenian ini selalu ditampilkan saat sedekah bumi, bahkan sudah menjadi tradisi turun-temurun.

​”Di desa kami, setiap acara sedekah bumi selalu menghadirkan kesenian tayub. Dari masa ke masa, orang tua kami selalu berpesan untuk mendatangkan tayub, dan itu terus kami jaga sampai sekarang. Mungkin itu sudah jadi tradisi turun-temurun yang tidak bisa dipisahkan dari jati diri desa kami. Meskipun sekarang zamannya sudah maju, tayub tetap punya tempat di hati warga Jukung,” jelas Harsono.

BACA JUGA :  Kabar Gembira, Insentif Guru TPQ dan Madin Rembang Diupayakan Cair Sebelum Lebaran

​Di tempat berbeda, kesenian ini juga masih dilestarikan masyarakat Dusun Kedung Sapen hingga Dusun Bowong Kecamatan Sumber.

Mabrur, pengamat budaya lokal menilai bahwa kedua desa tersebut menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masih sangat kuat dan lestari hingga kini.

“Apa yang kita lihat di Dusun Kedung Sapen dan Desa Bowong menunjukkan bahwa kearifan lokal masih sangat kuat. Sedekah bumi adalah mekanisme sosial untuk mempererat silaturahmi. Di era modern ini, tradisi justru menjadi rem, agar masyarakat tidak kehilangan akar budayanya. Modernitas boleh masuk lewat gadget, tapi gotong royong dan syukur tetap dilakukan di lapangan lewat sedekah bumi,” terangnya.

​Harmoni budaya di era modern

​Fenomena sedekah bumi di wilayah Rembang tahun ini membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan.

Di satu sisi, warga menggunakan media sosial untuk mengabarkan kemeriahan acara.

Namun di sisi lain, ritual doa bersama dan penyajian sesaji tetap dilakukan dengan khidmat sesuai pakem lama.​

Momen Bulan Selo seolah menjadi Lebaran kedua, di mana kerukunan antar warga kembali dipererat di atas hamparan tikar yang sama.​

Dengan tetap lestarinya tradisi ini, Kabupaten Rembang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga merawat ekosistem sosial yang sehat.

Rasa syukur dan kebersamaan menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini