ramadan 2026

Harmoni di Pecinan Welahan, Barongsai dan Rebana Bersatu Menutup Imlek 2026

waktu baca 2 menit
Rabu, 4 Mar 2026 15:34 0 32 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Suasana syahdu sekaligus enerjik menyelimuti kawasan Klenteng Hok Tek Bio, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, kemarin sore.

Ribuan pasang mata menjadi saksi betapa indahnya akulturasi budaya dalam perayaan Cap Go Meh 2026, di mana tradisi Tionghoa dan kearifan lokal Jawa melebur dalam satu harmoni.

Sejak pukul 16.00 WIB, warga telah memadati rute sepanjang 2 kilometer di kawasan Pecinan.

Daya tarik utamanya? Kirab budaya yang menampilkan duel enerjik dua barongsai yang diiringi oleh tabuhan musik rebana yang menggema.

Ketua Yayasan Klenteng Welahan, Dicky Sugandi, menjelaskan bahwa Cap Go Meh adalah puncak sekaligus penutup seluruh rangkaian Tahun Baru Imlek.

Uniknya, ia menganalogikan tradisi ini dengan budaya lokal yang sangat akrab di telinga masyarakat Jawa.

“Jika dalam Islam kita mengenal Bodho Kupat setelah Idulfitri, maka di tradisi Tionghoa ada Cap Go Meh pada hari ke-15 setelah Imlek. Ini adalah momen penutup sekaligus simbol syukur,” ujar Dicky, Rabu (4/3/2026).

Kuliner Simbol Persatuan

Salah satu momen paling hangat terjadi saat jamuan makan bersama.

Pihak yayasan menyajikan 250 porsi Lontong Cap Go Meh, makanan khas yang kaya akan filosofi.

Menariknya, hidangan ini dinikmati bersama umat Muslim setempat dalam suasana penuh kekeluargaan.

Lontong melambangkan kerukunan dan persatuan antarumat beragama.

Rebung menyimbolkan semangat untuk terus tumbuh dan maju, layaknya tunas bambu yang menjulang ke langit.

Kebersamaan menjadi wujud nyata toleransi di tanah Welahan.

BACA JUGA :  Libur Panjang, Kunjungan Wisatawan di Waduk Seloromo Meningkat

Kemeriahan tidak berhenti di sore hari, sebagai bentuk upaya nguri-nguri (melestarikan) budaya Jawa, perayaan dilanjutkan dengan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk dari pukul 20.00 hingga dini hari.

Dicky berharap, di Tahun Kuda Api ini, kawasan Pecinan Welahan semakin mapan sebagai destinasi wisata religi dan budaya.

Ia memimpikan sebuah ekosistem di mana tradisi Tionghoa dapat terus hidup berdampingan dengan damai bersama masyarakat sekitar.

Antusiasme ini juga dirasakan oleh generasi muda.

Noya Luthfi (16), warga Desa Ketileng, mengaku terpukau dengan kolaborasi musik yang ditampilkan.

“Seru sekali melihat barongsai menari diiringi musik rebana. Ini membuktikan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk berbahagia bersama,” ungkapnya.

Perayaan di Klenteng Welahan tahun ini bukan sekadar seremoni kalender, melainkan pengingat bahwa di Jepara, perbedaan adalah warna yang memperindah kehidupan bermasyarakat.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini