ramadan 2026

Marak DBD, Dinkes Imbau Masyarakat Pati Lakukan PSN Rutin

waktu baca 3 menit
Jumat, 27 Feb 2026 13:08 0 56 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Pati mencapai belasan kasus.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati, Salis Diah Rahmawati, penyakit DBD menjadi salah satu penyakit menular berbahaya yang harus diwaspadai.

Mengingat, terdapat beberapa kasus kematian yang diakibatkan DBD.

Ia mengatakan, penyakit DBD harus disikapi secara serius, penanganan medis harus akurat dan tepat waktu.

“DBD di Januari 18 kasus. Antisipasinya masyarakat diimbau segera ke faskes (fasilitas kesehatan), minimal Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), jangan dianggap sepele karena kalau terlambat penanganan bisa menyebabkan kematian,” ujarnya kepada Mondes.co.id, Jumat, 27 Februari 2026.

Gejala DBD yang dirasakan penderita di antaranya, badan demam yang tinggi, mual dan pusing, bahkan paling parah sampai muntah.

Jika demam biasa penderita mengalami suhu tubuh maksimal 38 derajat Celcius, sedangkan ketika demam berdarah penderita mengalami suhu tubuh sampai di atas 40 derajat Celcius.

Penderita harus betul-betul menangani penyakit ini dengan serius.

“Gejalanya kan demam tinggi, dikasih penurun panas bentar nanti tinggi lagi sampai 39-40 derajat Celcius, bahkan ada yang lebih, terus pusing, mual. Apalagi kalau sudah muntah itu berbahaya, memang di ulu hati itu sakit, mual, muntah, pusing, panas, kalau telat penanganan bisa pendarahan,” tutur Salis.

Penderita yang mengidap penyakit tersebut mengalami demam berlangsung dengan waktu relatif lama.

Puncak terparahnya ketika memasuki hari ke-tiga atau hari ke-empat.

BACA JUGA :  Persebaran Area Pertanian Tembakau di Kabupaten Pati

“Kebanyakan bayi balita itu parah karena nggak bisa mengutarakan rasanya, biasanya malah kritis-kritisnya di hari ke-tiga atau empat. Ciri-ciri hampir sama typus, tapi kalau typus hanya sampai 38 derajat Celcius,” bebernya.

Musim-musim maraknya nyamuk Aedes Aegypti terjadi pada cuaca lembab.

Nyamuk bersarang di setiap sudut ataupun genangan untuk melakukan perindukan di sana.

“Penyebaran nyamuk banyak terutama fase musim kayak gini, musim penghujan seperti hujan yang tidak terus-menerus, sehingga telur nyamuk bisa jadi menetas. Pada musim tanam kayak gini juga nyamuk banyak sekali, karena habitat dan perindukkannya sama-sama di genangan,” paparnya.

Salis meminta agar Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan secara rutin dan intensif.

Beberapa langkah dengan membersihkan lingkungan harus maksimal di mana pun.

“Pokoknya sarang-sarang nyamuk diberantas dengan PSN agar lingkungan bersih. PSN harus rutin, tidak hanya sekali, bahkan ada edaran setiap hari Jumat lingkungan kantor kerja, kantor desa, kantor kecamatan, ndak harus di rumah,” pesannya.

Ia pun menilai PSN jauh lebih efektif dibandingkan fogging.

Masyarakat harus paham bahwa fogging mengakibatkan banyak efek samping.

“Sekarang masyarakat minta fogging padahal tidak efektif karena fogging hanya menunjukkan nyamuk dewasa, padahal yang harus dibunuh sejak telur. Itu efeknya insektisida, bisa resisten nyamuknya, dan pencemaran udara,” pungkasnya.

Perlu diketahui, jumlah penderita DBD berdasarkan catatan Dinkes Kabupaten Pati pada Januari di angka 18 kasus.

Terbanyak terjadi di wilayah Puskesmas Kayen dengan jumlah 4 kasus.

Lebih lanjut, wilayah Puskesmas Jaken, Pati II, Tlogowungu, dan Wedarijaksa I masing-masing 2 kasus.

Lalu, wilayah Puskesmas Gembong, Wedarijaksa II, Trangkil, Tayu I, Tayu II, serta Dukuhseti dengan jumlah masing-masing 1 kasus.

Sedangkan wilayah Puskesmas lainnya masih 0 kasus.

BACA JUGA :  Wacana Asuransi Wajib Kendaraan Mendapatkan Penolakan dari PC PMII Jepara 

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini