Terasi Oven Alyssa Asal Rembang Tembus Pasar Asia hingga Timur Tengah

waktu baca 4 menit
Senin, 8 Jun 2026 15:37 0 27 Supriyanto

​REMBANG — Mondes.co.id | Produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Desa Sidowayah, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berhasil memperluas jangkauan pasar hingga ke ranah internasional.

Produk terasi kemasan dengan merek “Terasi Oven Alyssa” tersebut kini telah dipasarkan ke sejumlah negara di kawasan Asia dan Timur Tengah.

​Sektor industri rumahan ini memelopori inovasi pengolahan udang rebon menjadi produk siap konsumsi dengan pengemasan modern, sekaligus menjadi media promosi potensi daerah di kancah global.

Pemilik sekaligus produsen Terasi Oven Alyssa, Dian Nurshintorini, mengungkapkan bahwa ide standardisasi kemasan ini berawal dari pengalaman pribadinya saat menempuh studi di Universitas Diponegoro, Semarang pada awal tahun 2000-an.

Guna menyokong biaya perkuliahan, ia kerap membawa terasi khas Rembang untuk dipasarkan di lingkungan tempat tinggalnya.

​Namun, karakteristik aroma terasi yang menyengat, kerap menimbulkan keluhan dari pengguna transportasi umum.

​”Aroma terasi tetap tercium meskipun sudah dibungkus berlapis-lapis dengan kertas koran, plastik, hingga bubuk kopi. Dari kendala logistik tersebut, saya mulai memikirkan metode pengolahan agar terasi dapat dibawa secara praktis, tanpa mengganggu kenyamanan publik,” ujar Dian, Senin (8/6/2026).

​Melalui serangkaian uji coba, Dian menerapkan metode pengeringan menggunakan oven.

Proses termal ini menghasilkan karakteristik terasi yang lebih kering, memiliki daya simpan lebih lama, higienis (tidak mudah berjamur), serta mereduksi intensitas aroma tanpa mengurangi cita rasa khasnya.

Produk tersebut kemudian dikemas dalam wadah stoples kecil yang kedap udara.

​Pasca pindah ke Tangerang Selatan pada tahun 2012, Dian memperluas penetrasi pasar melalui strategi pemasaran langsung (direct marketing) ke komunitas lokal.

BACA JUGA :  Polresta Pati Selidiki Hilangnya Calon Pengantin di Tlogowungu

Seiring dengan digitalisasi perniagaan, pemasaran kemudian diintegrasikan melalui platform media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram.

​Akselerasi usaha secara formal dilakukan pada masa pandemi Covid-19.

Dian memanfaatkan momentum tersebut untuk memenuhi standardisasi legalitas usaha.

Di antaranya, meliputi ​Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), Sertifikasi Halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), ​Nomor Induk Berusaha (NIB),​Pendaftaran Hak Merek Dagang

​”Pemenuhan legalitas ini krusial untuk meningkatkan sosiometri kepercayaan konsumen, terutama ketika pasar mulai mempertanyakan aspek higienitas dan kepatuhan regulasi,” tuturnya.

​Langkah ekspansi internasional dimulai pada tahun 2021 melalui fasilitas penayangan sampel produk di wilayah kerja Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong.

Respons positif dari komunitas diaspora Indonesia membuka keran permintaan ekspor informal.

Selain Hong Kong, produk ini juga merambah pasar Qatar via jaringan pekerja sektor migas yang menyasar komoditas pangan Nusantara.

​Pada Mei 2025, Terasi Oven Alyssa turut serta dalam forum penjajakan ekspor (buyer-matching) ke kawasan Afrika yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kenya.

Kendati peluang pasar terbuka lebar, Dian mengakui aktivitas ekspor skala besar masih menghadapi tantangan pada sistem mitigasi risiko pembayaran dari calon mitra luar negeri.

​Saat ini, kapasitas produksi Terasi Oven Alyssa berkisar antara 50 hingga 100 botol per hari dengan harga penawaran Rp20.000 per botol.

Volume permintaan dilaporkan mengalami fluktuasi positif hingga tiga kali lipat menjelang hari raya keagamaan nasional, seperti Idulfitri dan Tahun Baru.

​Menanggapi pencapaian tersebut, Sub Koordinator Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang, Darmuji, menyatakan bahwa Terasi Oven Alyssa merupakan salah satu representasi keberhasilan pemutakhiran produk lokal di Rembang.

BACA JUGA :  Kehadiran Bek Tangguh Jose Luis Espinosa, Suporter Harap Persijap Bangkit

Berdasarkan data taksonomi UMKM milik dinas terkait, pelaku usaha terasi yang mengadopsi manajemen pengemasan modern di wilayah tersebut masih sangat terbatas.

​Darmuji menambahkan, potensi serapan pasar internasional terhadap komoditas terasi Rembang sebenarnya sangat tinggi, dengan adanya permintaan agregat dari negara-negara seperti Jerman dan beberapa negara di Afrika.

Namun, struktur kapasitas produksi pelaku UMKM domestik, saat ini belum mampu memenuhi kuota permintaan yang umumnya berbasis tonase.

​”Kami mengidentifikasi adanya permintaan dalam volume besar (partai besar). Kendala utama terletak pada agregasi kapasitas produksi pelaku usaha lokal yang belum mencapai skala ekonomis untuk pemenuhan ekspor massal secara mandiri,” jelas Darmuji.

​Sebagai bentuk afirmasi kebijakan, Dinbudpar Kabupaten Rembang telah memfasilitasi penerbitan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), guna memberikan perlindungan hukum atas merek Alyssa.

Selain itu, pemerintah daerah berkomitmen melanjutkan program pembinaan melalui pelatihan digital branding dan digital marketing, guna memperkuat daya saing komoditas sektor ekonomi kreatif Rembang di pasar global.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini