Pengunjung Dinilai Kurang Menjaga Fasilitas Alun-alun Pati, Banyak Saluran Air Rusak

waktu baca 2 menit
Senin, 22 Jun 2026 13:49 0 49 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati selama ini merawat sarana dan prasarana kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan maksimal.

Di antaranya, melakukan pemeliharaan  taman kota, hutan kota, dan jalur hijau jalan setiap hari.

Meski begitu, Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan, Persampahan, dan Pertamanan DLH Kabupaten Pati, Henri Setiawan, menyayangkan kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah (Pemda).

Tanggung jawab untuk menjaga agar tetap berfungsi dengan baik sangat kurang, terbukti banyak temuan sarana dan prasarana yang rusak.

Selain itu, sampah-sampah yang berserakan di RTH, tak luput dari sorotan DLH.

“Menurut kami masyarakat menggunakan taman maupun hutan kota ada beberapa catatan. Alun-alun Pati salah satu area publik yang kita miliki, selain membuang sampah pada tempatnya, kami harap fasilitas bisa dijaga terutama keran karena kita sering ganti keran patah,” ujarnya saat diwawancarai di kantornya beberapa waktu lalu.

Sedangkan untuk saluran air yang rusak akan berdampak pada sulitnya pengunjung mencuci tangan saat beraktivitas.

“Kadang-kadang di alun-alun ada penampungan air sehingga toren bisa langsung digunakan. Karena tidak ada toren, kami juga ada saat menyiram menggunakan pompa. Kalau mau cuci tangan tidak bisa, itu biasanya dirusak, sering sekali patah,” ungkap Henri.

Diketahui, Alun-alun Simpang Lima Pati memiliki penyiram air otomatis atau disebut sprinkler yang berfungsi memberi kelembaban pada permukaan, sehingga alun-alun tetap dalam kondisi sejuk.

Sayangnya, pengunjung tak bertanggung jawab dengan sering memainkan sprinkler sesuka hati.

BACA JUGA :  Bupati Pati Ajak Bolodewo Perkuat Program Strategis

Kekaguman mereka yang berlebihan, malah merusak sprinkler tersebut.

“Sprinkler alun-alun juga sama, beberapa waktu secara periodik bisa nyiram tanaman rerumputan sendiri. Itu ikon, Kudus, Rembang nggak ada. Tapi kadang dirusak, ditendang, atau diputar,” paparnya.

Henri berharap, masyarakat lebih bijaksana memanfaatkan sarana yang disediakan.

“Harapannya bisa dijaga dengan keterbatasan dana yang ada. Kalau dana banyak, nggak masalah,” pungkasnya.

Editor: Mila Candra 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini