Merawat Tradisi, Perang Obor Tegalsambi Hadir dengan Wajah Baru 

waktu baca 3 menit
Selasa, 26 Mei 2026 16:54 0 20 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Malam hari di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara tampak suasana tak biasa, alih-alih gelap, perempatan desa itu justru membara.

Riuh rendah ribuan pasang mata mendadak sunyi saat puluhan pria bersiap dengan senjata unik di tangan mereka.

Yakni dengan gulungan pelepah kelapa dan daun pisang kering yang telah berkobar oleh api.

Syut! Prak!

Dua lelaki saling mengayunkan obor sekuat tenaga.

Benturan itu melahirkan hujan percikan api yang menari-nari di udara, menerangi Senin malam (25/5/2026).

Bukannya lari ketakutan, pekik semangat warga justru membakar atmosfer malam puncak sedekah bumi tersebut.

Itulah Perang Obor, sebuah ritual penolak bala yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Tegalsambi.

Namun, ada yang berbeda pada penyelenggaraan tahun ini.

Tradisi turun-temurun ini tampil dengan “wajah baru” yang lebih memukau.

Jika tahun-tahun sebelumnya Perang Obor terkesan murni ritual komunal, kali ini panitia memberikan sentuhan estetika pertunjukan.

Tata cahaya (lighting) yang apik, kostum pemain yang dirancang khusus, hingga fragmen teatrikal di awal acara, membuat tradisi ini naik kelas menjadi tontonan yang megah.

“Kami mencoba menambahkan sentuhan teatrikal, lighting, dan kostum pemain agar festival ini berbeda dari tahun sebelumnya,” ujar Petinggi Tegalsambi, Agus Santoso.

Meski bersolek dengan unsur modern, Agus menjamin esensi dan nilai kesakralan budaya yang diwariskan leluhur sama sekali tidak luntur.

Sebanyak 400 obor disiapkan malam itu untuk digenggam oleh sekitar 40 peserta.

Menariknya, para pemain tidak hanya didominasi oleh warga senior, tetapi juga para pemuda desa yang antusias menjaga api tradisi agar tidak padam digilas zaman.

BACA JUGA :  Gubernur Panggil Bupati Demak dan Wali Kota Semarang, Percepatan Penanganan Banjir

Riwayat Perang Obor sendiri berakar dari kisah legendaris dua tokoh leluhur desa, yakni Kiai Babadan dan Mbah Gemblong.

Perselisihan keduanya di masa lalu berakhir damai, setelah hewan-hewan ternak yang sempat sakit, secara ajaib kembali pulih.

Sejak itulah, kobaran api obor dimaknai sebagai simbol rasa syukur, sekaligus doa penolak bala bagi seluruh desa.

Sebelum bara api saling dihantamkan, prosesi sakral sudah dimulai sejak sore.

Warga menggelar kirab pusaka, mengarak benda bersejarah dari rumah petinggi desa menuju lokasi utama.

Kehadiran tokoh penting seperti Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, Bupati Jepara Witiarso Utomo, dan Wakil Bupati M. Ibnu Hajar menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar hajat desa terpencil.

“Perang Obor memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Agenda ini mampu menarik wisatawan untuk datang ke Jepara, sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat yang harus terus dijaga,” ungkap Taj Yasin Maimoen di sela-sela acara.

Saat api obor terakhir padam dan asap tipis mulai menguap ke langit Jepara, warga Tegalsambi pulang dengan senyum puas.

Malam itu, mereka tidak hanya berhasil menuntaskan janji pada leluhur, tetapi juga membuktikan bahwa tradisi lama bisa berjalan beriringan dengan kreativitas masa kini.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini