Foto: Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Sunan Kudus Praktik Pengalaman Lapangan dan Kuliah Kerja Lapangan (PPL-KKL) di Rumah Pelayanan Sosial (RPS) Waluyotomo Jepara (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Sunan Kudus menggelar aksi inovatif di Rumah Pelayanan Sosial (RPS) Waluyotomo Jepara.
Melalui kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan dan Kuliah Kerja Lapangan (PPL-KKL), mereka mengajak para penerima manfaat mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos sebagai media pemulihan jiwa
Agenda yang memadukan kepedulian lingkungan dan aspek psikologis ini diikuti secara antusias oleh para penerima manfaat, pegawai RPS Waluyotomo, serta mahasiswa BKI.
Seluruh peserta bergotong-royong mengumpulkan, memilah, hingga mengolah sampah daun dan ranting menjadi kompos siap pakai yang nantinya digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekitar.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, aktivitas ini dirancang khusus untuk memberikan bekal pengalaman nyata bagi para penerima manfaat.
Keterlibatan aktif dalam setiap proses pengolahan diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerja sama, dan kedekatan terhadap alam.
Penyuluh Sosial Ahli Muda RPS Waluyotomo Jepara, Peni Permata Dewi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rehabilitasi melalui bimbingan keterampilan pertanian.
Menurutnya, proses ini tidak sekadar mengajarkan aspek teknis pembuatan kompos, tetapi juga berfungsi sebagai media terapi yang efektif.
“Melalui kegiatan ini, mereka dapat merefleksikan diri, merasakan ketenangan saat merawat tanaman, berinteraksi dengan sesama, serta belajar berkontribusi dalam kelompok. Ini menjadi salah satu sarana healing yang efektif untuk mendukung proses rehabilitasi mereka,” ujar Peni, Rabu (8/7/2026).
Para mahasiswa juga berkolaborasi menggelar kegiatan pemilahan sampah berkelanjutan.
Kegiatan ini melibatkan sinergi yang kuat antara Kepala Panti, pegawai RPS Waluyotomo, penerima manfaat panti, serta menghadirkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara sebagai narasumber utama.
Kepala RPS Waluyotomo Jepara, Sundarwati menekankan pentingnya membangun kepedulian bersama terhadap kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Edukasi mendalam kemudian disampaikan oleh Kepala DLH Kabupaten Jepara, Rini Patmini.
Ia memaparkan pentingnya gerakan mengurangi, memilah, dan mengolah sampah langsung dari sumbernya sebagai benteng utama menjaga kelestarian alam.
Usai pembekalan teori, para peserta langsung diberikan pengarahan teknis mengenai tata cara pemilahan sampah yang benar.
Memasuki sesi praktik, suasana menjadi produktif.
Para penerima manfaat bersama mahasiswa PPL dan pegawai panti bahu-membahu memilah sampah anorganik yang telah dikumpulkan, mulai dari botol plastik, tutup botol, sedotan, plastik berwarna, hingga kardus bekas.
Sampah-sampah yang telah terpilah rapi ini tidak dibuang begitu saja, melainkan dikumpulkan untuk dijual ke bank sampah.
Lewat langkah ini, sampah yang semula dianggap limbah berhasil, disulap menjadi barang bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi volume sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Rini menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat.
Perubahan besar harus dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari di lingkungan sekitar.
“Saya berharap ada kerja sama, tindakan, dan aksi nyata untuk mengurangi, memilah, serta mengolah sampah dari sumber. Sampahmu adalah tanggung jawabmu. Hal ini menjadi sangat penting untuk menjaga alam dan lingkungan Jepara, mengingat TPA kita saat ini sudah penuh. Harapannya, sampah dapat dikelola dengan baik sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan,” tegas Rini.
Pihak mahasiswa BKI UIN Sunan Kudus berharap, kolaborasi ini dapat membawa dampak positif yang konsisten dan berkelanjutan.
Selain menghasilkan pupuk alami untuk mendukung kemandirian pertanian di RPS Waluyotomo, agenda ini diharapkan mampu memantik semangat menjaga lingkungan, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial yang lebih luas di tengah masyarakat.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar