Foto: Lahan budi daya jeruk nipis di Desa Ngablak Kecamatan Cluwak (Mondes/Istimewa) PATI- Mondes.co.id | Di tengah hamparan perkebunan wilayah Desa Ngablak Kecamatan Cluwak yang didominasi tanaman ubi pohong atau ketela, seorang petani muda bernama Agus Kacak mencoba keberuntungan di bidang pertanian pohon jeruk nipis.
Agus menanam sebanyak 200 batang pohon jeruk nipis di lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi.
Dengan tekad yang bulat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, Agus Kacak mencoba keberuntungan tersebut dengan pengetahuan yang terbatas.
Seperti yang diketahui, jeruk nipis (Citrus aurantifolia) memiliki daya adaptasi yang luas dan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan seperti obat keluarga, bumbu dapur, bahan pangan olahan dan kosmetika.
Ia mencoba menanam pohon jeruk nipis di sela-sela tanaman pisang yang sebelumnya sudah ada.
Seiring waktu, saat ini jeruk nipis yang ditanamnya sudah mulai berbuah dan menghasilkan pendapatan yang cukup menjanjikan daripada tanaman pisang.
Mengingat, tanaman pisang yang Agus tanam mengalami banyak kendala, terutama stres pisang yang selalu menghantui, sehingga berulang kali gagal panen.
“Dari luasan 5.000 meter persegi yang ditanami 200 pohon, saya melakukan penjarangan tanaman, sehingga saat ini yang tersisa hanya sekitar 100 pohon,” ujarnya.
Panen jeruk nipis ini sendiri dapat dilakukan seminggu sekali dengan hasil rata-rata per pohon 10-15 Kg per minggu.
“Rata-rata hasil panen 1 kebun sekitar 1 sampai 1,5 kuintal. Dengan harga Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram,” tambahnya.
Dengan hasil yang diperolehnya, Agus Kacak mengantongi sekitar Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000 setiap minggunya.
Ia mengungkapkan, perawatan jeruk nipis sangatlah mudah dan tidak membutuhkan perlakuan khusus.
“Hanya melakukan penyiraman rutin 2 hari sekali, pruning ranting, dan penyemprotan pestisida 1 bulan sekali, sehingga biaya perawatan jeruk nipis sangatlah mudah,” ujarnya.
Sedangkan pupuk yang digunakan lebih banyak dari bahan organik, seperti pupuk kandang atau serasah daun yang ada di kebun itu sendiri.
Saat ini, Agus Kacak kewalahan memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan hasil panennya.
“Per hari pasar Ngablak rata-rata meminta pasokan lebih dari 20 kilogram,” sebutnya.
Mengingat hal tersebut, ia mengharapkan teman-teman petani yang lain dapat memanfaatkan lahannya untuk menanam jeruk nipis.
Pemerintah Desa Ngablak pun sangat mendukung budi daya jeruk nipis yang dilakukan oleh Agus tersebut, dengan harapan masyarakat atau petani lainnya tertarik menanam jeruk nipis.
Jeruk nipis tidak membutuhkan lahan yang luas, sehingga dapat ditanam di kebun dalam skala besar maupun di pekarangan dalam rangka mencukupi kebutuhan pasar yang meningkat dari hari ke hari.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini