Foto; pengrajin bubut kayu di Pati (Mondes/Supriyanto) PATI – Mondes.co.id | Di sebuah sudut Dusun Bungkus, Desa Kuniran, Kecamatan Batangan, deru mesin tua memecah keheningan.
Di tengah kepungan teknologi digital dan mesin CNC otomatis yang serba instan, denyut nadi industri kreatif berbasis kearifan lokal ternyata masih berdenyut kencang.
Di sinilah, seni bubut kayu manual tetap menjadi panglima ekonomi warga.
Adalah Daryono, sosok veteran pengrajin yang menjadi saksi bisu, sekaligus pemain utama dalam sejarah panjang bubut kayu di Pati.
Sejak tahun 2001, atau tepat 25 tahun silam, jemari terampilnya telah bersahabat dengan tajamnya mata pisau bubut.
Bagi Daryono, membubut bukan sekadar memutar kayu.
Ini adalah soal presisi dan feeling yang tidak bisa ditiru oleh algoritma mesin modern.
”Saya sudah menekuni usaha ini sejak 2001. Meski zaman sekarang serba mesin, bubut manual punya jiwa. Hasilnya lebih personal dan detail,” tutur Daryono, Senin (11/5/2026).
Ia menceritakan dengan mata berbinar, saat ditemui di bengkel kerjanya yang penuh dengan serbuk kayu.
Meski bertajuk manual, jangan bayangkan proses yang lamban.
Kecepatan tangan Daryono nyaris menyamai kecepatan cahaya industri.
Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga 300 buah gagang (handle) pintu.

Sebuah angka fantastis yang lahir dari jam terbang selama puluhan tahun.
Satu hal yang mengejutkan adalah komitmen Daryono menjaga harga di tengah fluktuasi ekonomi.
Untuk satu buah handle pintu yang estetik, ia hanya mematok jasa sebesar Rp2.000.
”Fokus kami bukan untung besar sesaat, tapi bagaimana volume produksi tetap lancar dan pelanggan tetap setia,” imbuhnya lugas.
Strategi ini terbukti ampuh, pesanan tak pernah berhenti mengalir, terutama dari kawasan industri Juwana.
Dusun Bungkus bukan sekadar desa biasa, ia adalah jantung bagi sentra logam Juwana.
Produk bubutan tangan Daryono biasanya dipadukan dengan aksesoris logam premium dari Juwana, sebelum terbang ke berbagai kota besar di seluruh Indonesia.
Tanpa tangan kreatif dari Kuniran, pintu-pintu megah di perumahan elite mungkin tak akan memiliki sentuhan kayu yang sehangat ini.
Potensi Dusun Bungkus sejatinya jauh melampaui sekadar bengkel rumahan.
Dengan nilai historis dan ekonomi yang solid, kawasan ini berpeluang besar bertransformasi menjadi Desa Wisata Industri.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah.
Dukungan pada pengembangan UMKM dan regenerasi pengrajin sangat dibutuhkan agar suara mesin bubut di Dusun Bungkus tidak hilang ditelan zaman.
Eksistensi Daryono adalah pengingat Bahwa di balik kemegahan pintu-pintu di penjuru negeri, ada keringat dan ketekunan pengrajin lokal yang menjaga ekonomi kerakyatan tetap menyala.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar