Foto: Eceng gondok menumpuk di Sungai Silugonggo (Mondes/Singgih) PATI – Mondes.co.id | Permukaan Sungai Silugonggo di Kabupaten Pati tertutup eceng gondok dan sampah dalam beberapa hari terakhir.
Akibatnya, ratusan nelayan tradisional tak bisa melaut.
Sejumlah perahu nelayan tampak terjebak di tepi sungai.
Perahu terkurung tanaman eceng gondok yang tebal.
Juru Bicara (Jubir) Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, menyampaikan kondisi ini biasa terjadi pada awal musim hujan.
Saat itu, eceng gondok dari daerah hulu hanyut terbawa air, lalu menumpuk di Sungai Silugonggo atau Sungai Juwana.
“Sebetulnya tidak masalah kalau tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya nelayan tradisional di wilayah Juwana,” kata Ari, Senin, 2 November 2026.
Menurut Ari, persoalannya muncul sejak ada Bendung Karet di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan.
Eceng gondok tidak lagi mengalir sedikit demi sedikit secara alami, tetapi tertahan dan menumpuk di bendung karet.
“Ketika menumpuk di bendung karet, lalu akhirnya tiba-tiba dibuka tanpa ada pemberitahuan. Sehingga nelayan menjadi kacau (karena tiba-tiba eceng gondok yang menumpuk mengalir ke hilir),” ujarnya.
Nelayan yang sudah telanjur berangkat ke laut, tidak bisa pulang.
Mereka terpaksa meninggalkan perahu di lokasi yang cukup jauh dari rumah.
Pada hari-hari berikutnya, mereka juga tidak bisa melaut karena seluruh permukaan sungai tertutup eceng gondok dan sampah.
Jampisawan melihat aliran eceng gondok dalam jumlah besar dari wilayah hulu sekitar empat hari lalu.
Begitu bendung karet dibuka, eceng gondok itu terlihat jelas bergerak sangat cepat ke hilir.
Setelah itu, mereka menerima laporan dari nelayan bahwa mereka terjebak dan tidak bisa pulang.
Ia menilai, masalah ini sebetulnya sederhana.
Sebelum bendung karet dibuka, pihak terkait semestinya memberi tahu nelayan di hilir soal jadwal pembukaan.
“Misalkan hari ini jam segini akan ada proses pembukaan. Kemudian pembukaan itu kan tidak harus langsung dibuka penuh, sehingga eceng gondok bisa mengalir sedikit-sedikit dan tidak begitu mengganggu nelayan,” ucapnya.
Ari menambahkan, secara teknis, bendung karet perlu dilengkapi alat berat.
Eceng gondok dan sampah yang tertampung bisa diangkat ke darat, bukan dialirkan tiba-tiba ke arah laut.
Soal kerugian, Ari menyebut nelayan tradisional saat ini bisa mendapat sekitar Rp300 ribu bersih per hari.
Di wilayah Kecamatan Juwana sendiri ada sekitar 400 perahu.
“Kalau ngomong soal kerugian, ya bisa saja dihitung 400 perahu kali 300 (ribu) per hari, sudah empat hari. Itu belum lagi kerugian kapal besar yang sedang melakukan perbaikan dan mengisi perbekalan, itu kan juga sangat terganggu,” katanya.
Ari mengungkapkan, persoalan sampah dan eceng gondok ini juga sempat muncul saat audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah (Jateng).
Jampisawan juga sudah berkirim surat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk meminta audiensi sejak pekan lalu.
“Cuma sampai saat ini kami belum mendapatkan tanggapan,” ujarnya.
Kepala Desa (Kades) Kedungpancing, Kecamatan Juwana, Didik Narwadi, mengatakan sungai mulai tertutup eceng gondok sejak tiga hari lalu, setelah Bendung Karet dibuka.
Ia menyebut, di desanya saja ada sekitar 50 perahu nelayan tradisional yang terdampak, masing-masing diawaki dua orang.
Jumlah itu belum termasuk nelayan di desa-desa lain sepanjang sungai.
Satu perahu bisa merugi sekitar Rp300 ribu per hari karena tidak melaut.
Ia mengatakan, kondisi seperti ini terjadi setiap tahun.
Saat bendung karet ditutup, eceng gondok dari hulu berkumpul di depan bendung.
Begitu dibuka, semuanya mengalir bersamaan.
“Jadi mengagetkan, seluruh permukaan air itu kebak (penuh) eceng gondok,” kata Didik.
Pada hari sebelumnya, hamparan eceng gondok memenuhi sungai sepanjang sekitar 2 kilometer, mulai dari Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana.
Kini, sebagian sudah mulai mengalir.
Untuk penanganan, pihak desa terus berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juana.
Didik menyebut sudah ada titik terang.
Tim BWS turun ke lapangan dan berencana meminjamkan alat berat untuk mengangkut eceng gondok dari sungai.
“Semoga alatnya cepat terealisasi dan bisa mengurangi eceng gondok. Tadi dijanjikan secepat mungkin,” pungkasnya.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini