ATAP Bikin Ketar-ketir Petani, Jadi Makelar Baru? Sunarto: Masalah Utama Disistem!

PATI – Mondes.co.id | Rencana pembentukan Asosiasi Tapioka Pati (ATAP) oleh kalangan pengusaha, mendapat tanggapan beragam dari sejumlah pelaku usaha tapioka di Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Sejumlah pengusaha tapioka mengaku setuju dengan adanya asosiasi tapioka, namun jangan sampai ditumpangi kepentingan lain.

Seperti yang diungkapkan Ahmad Sunarto, pelaku usaha tapioka Desa Ngempak Kidul, Margoyoso. Menurutnya, pada dasarnya ia mendukung jika ada pihak yang mau memikirkan nasib IKM dan UMKM tapioka di Pati.

“Secara prinsip saya setuju dengan pembentukan asosiasi tapioka. Terlebih hingga saat ini tidak ada organisasi yang menaungi pelaku usaha tapioka. Tapi kami akan menentang jika sampai ada udang di balik batu. Apalagi sampai menghilangkan kerja makelar singkong,” ujar Sunarto, Sabtu (13/8/2022).

Karena, lanjut Sunarto, peran makelar sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan usaha tapioka. Pihaknya mengaku, membutuhkan jasa makelar untuk mendapatkan ketela dari para petani. Demikian juga petani, juga membutuhkan jasa makelar untuk menjual ketela hasil panennya.

“Tidak mungkin kan, saya harus mencari ketela sendiri ke kebun petani. Memang ada makelar yang mempermainkan harga, tapi itu lebih ke oknum. Dan itu jumlahnya tidak banyak. Biasanya memang ada, waktu ketela langka yaitu antara Desember hingga Maret. Masih banyak kok makelar yang baik,” jelasnya.

Dikatakannya, lebih baik yang diatur adalah sistem dan regulasi kerja makelar. Karena tidak mungkin menghilangkan jasa makelar karena mereka mengetahui info harga dan ketersediaan stok ketela dari petani.

“Misalnya diatur makelar di setiap desa. Misalnya, makelar Desa Ngemplak tidak boleh masuk ke Desa Sidomukti. Begitu juga sebaliknya. Mereka bisa didata oleh pemerintahan desa dan dibekali kartu identitas anggota,” terangnya.

Dijelaskan, tidak mungkin menghilangkan adanya makelar karena rata-rata pengusaha juga sudah mempunyai pelanggan dan suplai langsung dari petani.

“Intinya kami menyambut baik dengan adanya asosiasi tapioka ini. Tapi sekali lagi, jangan tumpangi dengan niat jahat karena ada yang kalah bersaing antar pengusaha tapioka. Sehingga ada pihak-pihak yang dikorbankan,” harap Sunarto.

Diketahui, pada Rabu (10/08/2022) lalu, sejumlah pengusaha tapioka dikumpulkan di Ruang Penjawi Setda Kabupaten Pati guna membentuk ATAP. Rencananya, pada September 2022 nanti, asosiasi ini akan didelakrasikan di Balaidesa Sidomukti, Margoyoso. (Re/Dr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.