Kemenag Pati Terima Audiensi Wali Santri Ndholo Kusumo, Diskusi Masalah Penutupan Pondok

waktu baca 3 menit
Senin, 29 Jun 2026 14:12 0 63 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati menerima kedatangan wali santri Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati pada hari ini, Senin, 29 Juni 2026 di Kantor Kemenag Kabupaten Pati.

Audiensi datang dari para wali murid yang menolak adanya penutupan Ponpes tersebut.

Acara audiensi itu juga menghadirkan perwakilan Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak & Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Pati, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati.

Disampaikan, penutupan Ponpes merupakan kewenangan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Pesantren Kemenag Republik Indonesia (RI).

Sejauh ini, pihak Kemenag RI telah mencabut izin Ponpes Ndholo Kusumo, sedangkan madrasah dan sekolah masih tetap diizinkan beroperasi.

“Pencabutan ranah Ditjen Pendidikan Pesantren, karena kami tidak bisa mencabut izin, bukan wilayahnya. Audiensi ini akan kami sampaikan kepada Kanwil Kemenag Jateng, Kanwil menyampaikan ke Kemenag Pusat,” ungkapnya di forum audiensi tersebut.

Pihaknya sudah memfasilitasi para santri yang kediamannya jauh dari madrasah maupun sekolah Yayasan Ndholo Kusumo untuk memilih Ponpes lain ketika izin Ponpes Ndholo Kusumo dicabut.

Pihaknya pun memastikan madrasah dan sekolah di Yayasan Ndholo Kusumo tetap memberikan hak pendidikan bagi anak didik.

“Tidak ada penitipan sekolah dan madrasah, yang ditutup pondoknya, sehingga anak-anak tetap bisa sekolah maupun madrasah. Persoalan bahwa anak bukan asli penduduk Tlogosari, Kemenag sudah memfasilitasi sekolah atau madrasah dengan fasilitas yang hampir mirip di pesantren lama, baik terkait fasilitas dan pembiayaan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Ratusan Personel Kepolisian Amankan Laga Persijap Vs Semen Padang FC

Selain itu, Kemenag Kabupaten Pati menjamin hak pendidikan anak eks-santri Yayasan Ndholo Kusumo mendapat pendidikan yang layak dan terjamin.

Masalah biaya akan dibantu oleh Kemenag, bilamana orang tua kesulitan biaya.

“Fasilitas, pembiayaan kehidupan dan lain-lain dikomunikasikan. Mereka yang sekolah itu tetap mendapat pembelajaran, hak pendidikan tetap dapat, domisili dicarikan yang sesuai,” ujarnya.

Kemenag Kabupaten Pati menegaskan tawaran alternatif untuk pindah ke Ponpes lain tidak dipaksakan.

Bahkan, persetujuan pindah ke sekolah atau madrasah perlu mengikuti asesmen dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

“Kami tak pernah merekomendasikan pindah, sehingga yang rumahnya bukan di Tlogosari ada alternatif. Kalau biaya membebani silahkan lapor ke Kemenag. Anak-anak tetap boleh sekolah di situ, nggak ada paksaan harus pindah,” tegas Syaiku.

Wali santri, Indah Fajarwati, berharap Ponpes Ndholo Kusumo menerima santri lagi, sehingga sang buah hatinya bisa kembali mondok di tempat tersebut.

Pasalnya, kedua anak Indah merasa nyaman tinggal di Ponpes tersebut.

“Harapannya pondok itu ditempati, sementara meski belum bisa dipulihkan, tapi harapannya pondok bisa ditempati. Kalau izinnya kembali, anak saya justru menjadi lebih baik,” ungkap wanita asal Desa Karang, Kecamatan Juwana itu.

Menurutnya, kedua anaknya merasa berkembang pesat semenjak mondok di Ponpes Ndholo Kusumo.

Sang anak diajari mengaji dan pendidikan karakter, sehingga menjadi lebih rajin dan pintar.

“Perkembangan anaknya malah bagus, maunya ngaji jelek sekarang hafal 5 juz, 10 juz. Setelah pondok ditutup mainan handphone terus, suruh ngaji sulit,” bebernya.

Di samping itu, ia tidak percaya adanya kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Kiai Ashari di Ponpes Ndholo Kusumo.

Selama ini, anaknya merasa aman dan nyaman di Ponpes Ndholo Kusumo selama enam tahun.

BACA JUGA :  Rumah Joglo Tua di Sulang Ludes Terbakar, Kerugian Capai Ratusan Juta

“Selama anak di sana nggak pernah mendengar hal aneh, tapi nyatanya nggak ada korban 50. Anak saya normal aja, cuma malu takut di-bully karena berita-berita itu,” urainya.

Anak Indah duduk di bangku kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan kelas XI Madrasah Aliyah (MA).

Kedua anaknya berjenis kelamin perempuan.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini