Foto: Sebuah batu ornamen andesit putih langka berukir dua sisi satu mencerminkan kelembutan sufistik Islam dan sisi lain memuat mistisisme teologis Hindu-Buddha (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Di bawah rindangnya rumpun bambu yang tumbuh subur di kawasan makam kuno Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, sebuah rahasia besar dari abad ke-16 perlahan-lahan terkuak kembali ke permukaan.
Sebuah batu ornamen andesit putih langka berukir dua sisi, satu mencerminkan kelembutan sufistik Islam dan sisi lain memuat mistisisme teologis Hindu-Buddha ditemukan terpendam di dalam tanah.
Temuan ini, bersama dengan struktur bata merah kuno yang masih terkunci di kedalaman bumi, kian mempertegas keyakinan lama bahwa di bawah hamparan tanah Kriyan inilah denyut nadi spiritual, sosiokultural, dan politik Keraton Ratu Kalinyamat dulunya berpusat.
Penemuan luar biasa ini sebenarnya bermula dari aktivitas bersahaja masyarakat.
Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah Assalafy, Gus Muhammad (Gus Mad), mengisahkan bahwa pada akhir tahun 2022 lalu, warga tengah bergotong-royong membersihkan area makam di kawasan yang dikenal masyarakat dengan nama “Langgar Bubrah”.
Saat itulah, cangkul santri membentur benda keras di bawah rindangan rumpun bambu, sekitar 700 meter dari Masjid Al Makmur Kriyan.
“Benda keras itu ternyata sebuah batu berukir indah yang terpendam tanah,” ungkap Gus Mad, saat ditemui wartawan Mondes.id, belum lama ini.
Menyadari nilai penting benda tersebut, Gus Mad mengamankan dan merawatnya di kediaman beliau, hingga akhirnya dilaporkan resmi ke pihak berwenang.
Merespons laporan berharga ini, Tim Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara bergerak cepat.
Dipimpin langsung oleh Kepala Disparbud Ali Hidayat dan Kabid Kebudayaan Muhamad Adjib Gufron, tim menggandeng Pokja Penyelamatan dan Pengamanan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa, yang diwakili oleh Harun Arosyid dan Wahyu Broto Raharjo.
Bersama-sama, mereka turun ke lapangan untuk melakukan asesmen awal dan mengamankan data primer terkait objek yang diduga kuat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tersebut.
Batu andesit putih berdimensi panjang 60 Cm, lebar 36 Cm, dan tebal 12,5 Cm ini segera diklasifikasikan sebagai Rare Ornament (Ornamen Langka).
Keunikannya terletak pada teknik pahatan relief dua muka (dua sisi) yang sangat jarang ditemukan dalam temuan arkeologis tunggal di pesisir utara Jawa.
Meski permukaan wajah figuratifnya telah mengalami keausan alami dimakan usia, garis ikonografinya masih menyisakan presisi estetika yang mengagumkan.
Pada Sisi A (Muka I), batu ini menampilkan untaian pola sulur-suluran flora yang memikat, dengan detail menyerupai taman air mancur di bagian bawah dan diakhiri lengkungan setengah lingkaran yang anggun di bagian atas.
Pola ini sangat identik dengan gaya ornamen yang menempel pada fasad depan Masjid Astana Sultan Hadlirin di Mantingan, kompleks makam suami Ratu Kalinyamat.
Namun, kejutan sesungguhnya berada di Sisi B (Muka II).
Ketika batu dibalik, pandangan kita dipaksa mundur jauh ke era sebelum Islam berjaya di pesisir Jepara.
Sisi ini memuat relief teologis keagamaan dari sekte Kalabhairawa Tantra, sebuah aliran esoteris era Hindu-Buddha.
Relief tersebut menggambarkan figur berwibawa yang mengenakan kalung untaian kepala tengkorak.
Tokoh utama ini didampingi oleh lima sosok Aspara (bidadari surgawi), di mana salah satu figur wanitanya digambarkan tengah memegang alat musik membranofon sejenis gendang kecil.
Seni hias dua sisi ini membuktikan terjadinya proses kreatif yang sangat toleran pada zamannya.
Besar kemungkinan batu purba dari era keagamaan lama ini, dipahat kembali sisi belakangnya dengan motif sulur flora yang lebih dapat diterima oleh syariat Islam saat itu, atau sengaja difungsikan sebagai elemen arsitektural yang menjembatani masa lalu dan masa kini.
Corak hiasan ini beririsan kuat dengan gaya visual Masjid Mantingan yang dikenal luas sebagai puncak akulturasi kebudayaan Jawa, Hindu-Buddha, Tionghoa, dan Islam era Ratu Kalinyamat.
Selain bernilai estetis, ia membawa fungsi simbolis mengenai filosofi transisi kehidupan sosial masyarakat Jepara kala itu.
Langkah penelusuran tim tidak berhenti pada batu ornamen.
Ketika melakukan peninjauan tapak di kawasan Langgar Bubrah, tim menemukan indikasi arkeologis yang tidak kalah masif, sebuah struktur bata kuno menyerupai dinding benteng memanjang yang masih terkubur rapi di dalam tanah.
Karakteristik bata yang ditemukan sangat kontras dengan bata modern.
Ukurannya raksasa, dengan rincian lebar 14,5 Cm, panjang 29,5 Cm, dan ketebalan berkisar antara 5 hingga 7 Cm.
Saat ini, bagian struktur yang telah terpapar, setidaknya menyisakan tiga lapis tatanan bata pada kedalaman sekitar satu meter dari permukaan tanah.
Keunikan lain terlihat pada bongkahan-bongkahan bata yang tercecer di sekitar lokasi.
Beberapa di antaranya memiliki guratan motif khusus, pola menjalar, hingga pola melingkar yang sengaja digoreskan sebelum bata tersebut dibakar di masa lalu.
Secara historis, penemuan struktur dan batu ornamen di Desa Kriyan ini, laksana potongan puzzle utama yang mengonfirmasi jalannya sejarah.
Berbagai sumber sejarah lokal maupun catatan kolonial, sejak lama mengindikasikan bahwa wilayah Kriyan merupakan lokasi asli dari kompleks Keraton atau tempat tinggal sang penguasa samudra abad ke-16, Ratu Kalinyamat.
Keberadaan situs-situs penunjang di sekitarnya, seperti Siti Hinggil (tanah tinggi tempat menghadap raja), Masjid Kriyan, dan kawasan Langgar Bubrah itu sendiri, kian memperkuat tesis bahwa kawasan ini adalah pusat pemerintahan yang megah pada zamannya.
Sadar akan signifikansi temuan ini terhadap historiografi Jepara dan nasional, Disparbud Jepara menempuh langkah-langkah strategis prosedural.
Tim Kebudayaan berkoordinasi erat dengan Pemerintah Desa Kriyan untuk menghimpun data kronologi penemuan, sekaligus menyelaraskan proteksi fisik di lapangan.
Selain itu, langkah edukasi regulasi cagar budaya juga diberikan secara teknis kepada jajaran perangkat desa mengenai kewajiban pelaporan, tata cara penanganan pertama (first-handling), serta penentuan zonasi aman di tingkat desa, demi menghindari perusakan objek akibat ketidaktahuan.
Meskipun menyimpan potensi arkeologis yang luar biasa, untuk saat ini tim gabungan memutuskan belum diperlukan langkah ekskavasi atau penggalian arkeologis secara menyeluruh.
Pertimbangan ini diambil secara bijaksana, demi menjaga kondusivitas sosial dan menghormati aspek spiritual kemasyarakatan.
Mengingat, tepat di bagian atas lokasi struktur bata kuno tersebut, masih terdapat sejumlah makam kuno yang dirawat dan dihormati oleh warga setempat.
Kini, fokus utama beralih pada penguatan literatur.
Disparbud Jepara menaruh harapan besar agar temuan berharga di Desa Kriyan ini segera ditindaklanjuti dengan kajian ilmiah mendalam, melalui penelusuran literatur dan dokumen sejarah.
Melalui pendekatan multidisiplin tersebut, diharapkan mata rantai sejarah peradaban pesisir Jepara, khususnya keterkaitan kuat antara struktur benteng kuno ini dengan kejayaan peradaban serta pusat kekuasaan Ratu Kalinyamat abad ke-16, dapat tersingkap secara benderang dan ilmiah kepada dunia.
(Catatan khusus wartawan Mondes.id/Dian Ardiansyah)
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar