Foto: Pedagang Pasar Bangsri mulai pindah di Pasar Bangsri yang baru (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Sejarah baru tercatat pada pusat perekonomian Pasar Bangsri.
Ribuan pedagang pasar “bedol desa” boyongan pindah ke pasar Bangsri Baru.
Terik matahari yang menyengat di langit Kecamatan Bangsri seolah tak mampu menembus semangat ribuan warga.
Di sepanjang jalan raya, lautan manusia berbusana serba putih tumpah ruah.
Suara tabuhan drumband berpadu dengan ritme magis dari kesenian reog, lincahnya tarian barongsai, hingga gema religius dari terbang jidur.
Kemarin, adalah momen bersejarah, sebuah boyongan akbar.
Ribuan pedagang melangkah pasti meninggalkan lapak lama mereka di sebelah terminal Bangsri, berjalan beriringan menuju rumah kedua mereka yang baru, yakni Pasar Baru Bangsri.
Langkah kaki para pedagang dalam arak-arakan tersebut membawa beban kenangan di pasar lama, sekaligus asa yang menggunung untuk masa depan.
Rencana perpindahan ini bukanlah cerita semalam, ia telah dirajut sejak tahun 2018.
Di tengah barisan yang mengular, tampak Kepala Disperindag Jepara, Anjar Jambore Widodo, berjalan beriringan dengan para pedagang.
Kehadirannya bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan bentuk dukungan moral bagi para pelaku ekonomi kecil yang sedang menjalani masa transisi.
“Sosialisasi sudah kami lakukan intensif sejak Februari, dilanjutkan pembagian kios yang lancar tanpa gejolak hingga pertengahan April. Dukungan penuh dari para pedagang adalah kunci suksesnya pemindahan ribuan orang ini,” ungkap Anjar dengan nada optimis.
Tiba di lokasi baru, kemegahan langsung menyambut.
Pasar Baru Bangsri berdiri gagah di atas lahan seluas 2 hektare dengan luas bangunan mencapai 800 meter persegi.
Ketua Paguyuban Pasar Bangsri, Nur Kholis, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.
Ia mencatat ada 1.354 pedagang yang kini memiliki tempat berdagang yang jauh lebih layak.
Fasilitasnya pun tak main-main, terbagi rapi menjadi 116 kios depan, 336 lapak kering, 688 lapak dalam, 180 lapak basah, dan 84 area khusus onderdil.
Kenyamanan ini bukan tanpa negosiasi.
Pemerintah membuktikan komitmennya dengan memenuhi enam poin tuntutan pedagang.
Mencakup fasilitas krusial seperti penerangan keliling, sistem keamanan CCTV, hingga pengeras suara untuk pusat informasi.
Sebuah lompatan besar dari kondisi pasar lama yang kumuh.
Kemeriahan boyongan tersebut disempurnakan dengan peresmian langsung oleh Wakil Bupati Jepara, M. Ibnu Hajar.
Pria yang akrab disapa Gus Hajar ini hadir mewakili Bupati H. Witiarso Utomo.
Setelah memotong pita, ia blusukan menyapa para pedagang yang tengah menggelar syukuran sederhana di lapak masing-masing.
“Pasar yang bersih dan nyaman akan menarik lebih banyak pengunjung,” pesan Gus Hajar.
Ia secara khusus menitipkan amanah kepada pengelola dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar kebersihan pasar baru ini terus dijaga ketat.
Harapannya satu, fasilitas yang meningkat harus berbanding lurus dengan kesejahteraan pedagang yang meroket.
Meski mayoritas pedagang telah menempati kios baru yang harum oleh aroma cat dan harapan, Anjar Jambore Widodo mencatat masih ada sekitar 20 persen pedagang yang bertahan di pasar lama.
Pemerintah memberikan tenggat waktu satu minggu (toleransi yang manusiawi) sebelum pasar lama ditutup resmi pekan depan.
Lalu, akan diapakan bangunan sarat kenangan di sebelah terminal itu?
Alih-alih dibiarkan terbengkalai, lahan pasar lama akan disulap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Sebuah transformasi tata ruang yang akan memberikan napas segar bagi warga Kecamatan Bangsri.
Sebagai puncak dari segala kelelahan dan kegembiraan, area Pasar Baru Bangsri disulap menjadi panggung pesta rakyat.
Doorprize fantastis diundi, tak tanggung-tanggung hadiah utamanya adalah satu unit kios dan sepeda listrik, ditambah guyuran uang tunai dari para pejabat daerah.
Hari yang panjang dan bersejarah itu akhirnya ditutup dengan sejuknya untaian doa dalam pengajian umum yang dipimpin oleh ulama Jawa Tengah, KH Makrus Ali.
Lantunan doa yang dipanjatkan mengangkasa, mengamini satu harapan bersama “semoga Pasar Baru Bangsri tidak sekadar menjadi ruang tawar-menawar harga, tetapi juga ladang rezeki yang penuh keberkahan bagi denyut nadi ekonomi Jepara”.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar