Menelisik Bengkel Mranggi Warangka Keris di Kedungsapen Rembang

waktu baca 3 menit
Jumat, 24 Apr 2026 15:19 0 71 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Di balik ketenangan Dusun Kedungsapen, Desa Jatihadi, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, tersimpan geliat pelestarian budaya yang bernilai tinggi.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Di tangan terampil seorang pengrajin bernama Mabrur, lembaran kayu-kayu pilihan diubah menjadi warangka (sarung) keris yang memadukan nilai estetika, filosofi, dan prestise.

​Menjadi seorang mranggi sebutan bagi pembuat warangka keris, bukan sekadar profesi bagi Mabrur.

Ini adalah dedikasi untuk menjaga marwah sebilah keris.

ketua pgri

Di bengkel kerjanya, pemandangan berbagai jenis kayu eksotis menjadi santapan sehari-hari.

Mulai dari kayu Timoho, Gaharu, Dao, Nogosari, Trembalo, Cendana, hingga kayu Mojo, tampak berjajar menunggu sentuhan sang maestro.

​Pasar warangka keris di Kedungsapen ini ternyata tidak main-main.

Harga yang ditawarkan sangat variatif, mulai dari Rp130 ribu untuk kategori standar, hingga menembus angka fantastis mencapai Rp14 juta per unitnya.

​Mabrur menjelaskan, penentuan harga sebuah warangka tidak dilakukan secara sembarangan.

Ada variabel khusus yang membuat sebuah karya seni ini bisa dihargai setara dengan harga sepeda motor.

​”Yang menjadikan acuan harga warangka keris mahal itu karena kelangkaan jenis kayu, motif yang muncul secara alami, serta hasil akhir dari pengerjaannya (garap). Kalau di sini, ada yang mulai harga Rp130 ribu hingga Rp14 juta,”ungkap Mabrur saat ditemui di kediamanya.

​Menurutnya, kayu seperti Cendana atau Timoho dengan motif pelet yang unik sangat sulit didapatkan.

Semakin langka jenis kayu dan indah motif alaminya, maka semakin tinggi pula nilai tawar di mata para kolektor atau pecinta tosan aji.

BACA JUGA :  Siapkan Rp4 Miliar, Revitalisasi Alun-alun 1 Jepara Segera Dilaksanakan

​Berbeda dengan industri manufaktur massal, produksi warangka keris di tempat Mabrur sangat mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas.

Dalam sehari, ia hanya membatasi produksi maksimal sekitar 5 buah warangka saja.

​Hal ini dilakukan untuk menjaga ketelitian di setiap detail lekukan kayu agar sesuai dengan keris yang akan dipasangkan.

Selain itu, sebagian besar karya yang lahir dari tangan Mabrur merupakan pesanan khusus (custom) yang disesuaikan dengan keinginan dan karakter pemesan.

​”Di setiap harinya tidak memproduksi banyak, sehari hanya kisaran 5 warangka. Produksi juga berdasarkan pesanan khusus sesuai keinginan pembeli,” tambah Mabrur.

​Keberadaan pengrajin warangka seperti Mabrur di Desa Jatihadi menjadi bukti bahwa keris masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, baik sebagai benda pusaka maupun benda seni.

Karyanya tidak hanya diminati oleh warga lokal Rembang, tetapi juga menarik perhatian para kolektor dari luar daerah yang mencari kualitas garap halus dan pilihan kayu otentik.

​Bagi para kolektor, warangka bukan sekadar pembungkus besi tua, melainkan “busana” yang mencerminkan martabat dari keris itu sendiri.

Di tangan Mabrur, kayu-kayu langka tersebut menemukan bentuk terbaiknya untuk terus melestarikan budaya adiluhung Nusantara.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini