Kiprah Nyata untuk Pati, WCC Perjuangkan Keadilan Perempuan dan Pendidikan Anak Disabilitas

waktu baca 3 menit
Sabtu, 18 Apr 2026 13:35 0 478 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Yayasan Sahabat Perempuan dan Anak atau Women and Child Crisis Center (WCC) Kabupaten Pati menjadi penolong bagi perempuan, anak-anak, dan disabilitas ketika membutuhkan uluran bantuan.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Yayasan yang diketuai oleh Budi Nugraheni itu memberikan perlindungan bagi kaum rentan yang mengalami masalah sosial, pendidikan, kesehatan, maupun hukum.

Yayasan Sahabat Perempuan dan Anak menyediakan layanan pengaduan dan penanganan kasus-kasus yang menimpa kaum rentan selama 24 jam.

Fokus utama pelayanannya pada bantuan hukum bagi kaum rentan yang menjadi korban atas kekerasan maupun ketidakadilan.

ketua pgri

“Sahabat Perempuan dan Anak atau WCC ini konsentrasi subjeknya perempuan dan anak, objeknya bantuan hukum bagi korban. Namun, tak menutup kemungkinan kami memenuhi kebutuhan pendidikannya hingga kesehatannya,” ujar Budi Nugraheni kepada Mondes.co.id, Sabtu, 18 April 2026.

Yayasan Sahabat Perempuan dan Aman hadir memberikan bantuan hukum kepada korban-korban kekerasan yang tak tahu langkah mencari keadilan.

“Kita pendekatan kepada orang yang tidak mampu sampai ke desa-desa bagi yang susah memperjuangkan perlindungan hukum seperti korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), karena hal seperti ini jarang ada yang bantu, maka kita tampil melengkapi kebutuhan masyarakat ekonomi rendah. Sedangkan, kalau korban dari orang mampu bisa sewa advokat, sedangkan kalau orang tidak mampu kan susah,” ungkap perempuan praktisi hukum itu.

Ia menceritakan, Yayasan Sahabat Perempuan dan Anak ikut memberikan bantuan hukum bagi korban kekerasan seksual yang sempat menggemparkan Kabupaten Pati di tahun 2022 lalu.

BACA JUGA :  Rasa Syukur Warga Ketanggan Membuncah Melalui Pelestarian Tradisi

Saat itu, terdapat perempuan disabilitas yang dirudapaksa oleh perangkat desa (Perades) di Kecamatan Tayu.

Yayasan ini memberikan bantuan hukum, penanganan kesehatan, hingga pemenuhan kebutuhan ekonomi kepada korban.

Bahkan, santunan untuk keluarganya juga diberikan guna meringankan beban ekonomi, serta renovasi rumah.

Apalagi, korban menyandang difabel sejak lahir, ditambah orang tuanya mengidap penyakit parah.

Korban sendiri hanya bekerja serabutan dengan gaji kecil.

Selain itu, pada 2024 lalu, pihaknya juga memberikan pembimbingan bagi seorang pemuda asal Kecamatan Trangkil yang mencuri pisang di Kecamatan Tlogowungu.

Pada waktu itu, WCC prihatin karena sang anak diarak keliling kampung.

Berkat Yayasan Sahabat Perempuan dan Anak, akhirnya sang anak tertangani dengan baik, secara pendidikan dan mental.

Sebagai informasi, Yayasan Sahabat Perempuan dan Anak aktif terlibat mendampingi kelompok belajar anak berkebutuhan khusus.

Bahkan, dengan upayanya membantu akses pendidikan, yayasan ini berhasil memperjuangkan pemanfaatan bus sekolah untuk akses transportasi anak disabilitas menuju Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kita memperjuangkan ini ke DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dengan melirik fasilitas bus sekolah di Dishub (Dinas Perhubungan) yang sebelumnya tidak terpakai. Kita cari peluang, kita matur Bapak Bupati diizinkan untuk memakainya,” ujarnya.

Awalnya biaya transportasi ditanggung sendiri oleh yayasan. Namun, seiring berjalannya waktu dan perjuangan untuk menggandeng pemerintah daerah (pemda), akhirnya bus sekolah memperoleh subsidi BBM dari pemerintah. Bahkan sopir juga memperoleh honor.

“Bus sekolah digunakan justru penting untuk disabilitas, terutama dari kalangan kurang mampu, kalau ada fasilitas kami koordinir tiap kecamatan untuk antar jemput ke SLB. Jumlah disabilitas di Pati yang ingin sekolah ada ratusan,” tutur wanita asal Cluwak tersebut.

Yayasan Sahabat Perempuan dan Anak senantiasa mendampingi kelompok belajar, sebagaimana anak-anak berkebutuhan khusus.

BACA JUGA :  Merasakan Ajibnya Menu Arab di Pati

Sehingga, anak istimewa ini memiliki kesempatan mengasah keterampilannya.

“Kalau orang ekonomi mampu bisa melakukan pendidikan mandiri, tapi bagi masyarakat ekonomi ke bawah banyak area luar Kota Pati yang mau sekolah di SLB tidak bisa menjangkau. Kami ingin membekali mereka pendidikan formal dan non formal, agar ketika dewasa anak-anak ini mandiri, kita arahkan mimpinya sesuai keterampilan mereka,” tegasnya.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini