Foto: Salah satu warga Alasdowo, Mas Sapto membantu peserta larung sesaji turun dari perahu (Mondes/Istimewa) PATI – Mondes.co.id | Tradisi sedekah laut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pesisir di Jawa.
Seperti yang terlihat dalam puncak acara Sedekah Laut Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah pada Kamis, 9 April 2026.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, acara sedekah laut kali ini berlangsung sangat meriah.
Jika sebelumnya hanya belasan perahu yang mengiringi larung sesaji di Pantai Alasdowo, kali ini setidaknya 33 perahu nelayan setempat turut mengiringi prosesi larung sesaji.
Suratman, Ketua Panitia Sedekah Laut Alasdowo, mengaku berterima kasih atas antusias dan partisispasi warga meramaikan tradisi ini.
Dikatakan, ritual ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarat dengan nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Melalui tradisi ini, masyarakat menunjukkan rasa syukur, serta menjaga hubungan harmonis dengan alam.
“Tradisi sedekah laut merupakan warisan budaya yang kaya makna dan nilai. Selain sebagai bentuk syukur atas limpahan hasil laut, tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan dan memperkuat solidaritas sosial antar warga,” ungkap Suratman.
Puncak upacara terjadi saat pelarungan sesaji di tengah laut.
Inilah momen paling ditunggu dan paling khidmat.
Adapun sesaji yang dilarung berupa miniatur kapal yang berisi kepala kambing.
“Dalam miniatur kapal tadi ada kepala kambing sebagai simbol pengorbanan. Sesaji merupakan simbol rasa syukur kolektif masyarakat. Setelah pelarungan, nelayan menyiram perahu dengan air laut. Tindakan ini dimaknai sebagai harapan rezeki yang terus mengalir,” terang Suratman.
Setelah melarung, puluhan perahu kembali ke alur Sungai Lenggi Alasdowo.
Sebagai acara hiburan di komplek TPI Alasdowo, diramaikan budaya Kethoprak Wahyu Budoyo yang pentas siang-malam.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar