Foto: Kondisi air banjir di wilayah Kabupaten Pati (Mondes/Istimewa) PATI – Mondes.co.id | Kabupaten Pati kembali dilanda banjir, imbas hujan intensitas tinggi pada Minggu, 24 Mei 2026 malam sampai Senin, 25 Mei 2026 dini hari.
Banjir berdampak di tiga kecamatan, yakni Batangan, Gabus, dan Wedarijaksa.
Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, menyebut banjir melanda Desa Ketitangwetan, Ngening, dan Raci di Kecamatan Batangan.
Lalu, Desa Jontro, Ngurenrejo, Ngurensiti, dan Panggungroyom di Kecamatan Wedarijaksa.
Serta, Desa Tanjunganom di Kecamatan Gabus.
Diketahui, ketinggian air banjir di Kecamatan Wedarijaksa hingga 30 sentimeter.
“Saat ini, Jontro, Ngurenrejo, dan Ngurensiti masih ada genangan, ketinggian air bervariasi antara 10 sampai 30 sentimeter di permukiman maupun persawahan,” ungkapnya kepada awak media hari ini.
Sedangkan, ketinggian air di Kecamatan Batangan mencapai hingga 1 meter.
“Untuk wilayah Kecamatan Batangan ada Ketitangwetan, Raci, Ngening. Ketinggian air bervariasi antara 30 sampai 100 sentimeter di permukiman maupun persawahan,” paparnya.
Sementara, banjir yang melanda Desa Tanjunganom mencapai hingga sampai 50 sentimeter.
Imbasnya, jalur penghubung antara Kecamatan Gabus dengan Tambakromo tersendat pada pagi ini.
“Kecamatan Gabus di Dukuh Paras, Desa Tanjunganom. Menyebabkan arus lalu lintas Gabus ke Tambakromo, tersendat karena limpasan air,” ucapnya.
Sebagai informasi, air banjir yang melanda Kecamatan Wedarijaksa berasal dari kawasan Gunung Muria.
Sedangkan, air banjir yang melanda di Kecamatan Batangan dan Gabus berasal dari kawasan Pegunungan Kendeng.
“Wedarijaksa kiriman dari Muria. Kalau Ketitangwetan, Raci dari Kendeng, Pucakwangi, Jaken, tururnnya Batangan. Demikian juga di Paras juga dari Kendeng, dari Godo, Sinomwidodo, Angkatan Lor, Angkatan Kidul masuknya ke Tanjunganom,” bebernya.
Tidak ada korban jiwa pada peristiwa banjir ini.
Namun, mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu.
Cuaca yang melanda Indonesia akhir-akhir ini memang cukup membingungkan.
Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan tahun 2026 akan terjadi kemarau ekstrem.
Sehingga, pemerintah daerah (Pemda) berupaya persiapan untuk menghadapi kekeringan.
“Kalau kita bicara cuaca memang susah bagi kami (BPBD) memastikan karena kemarin hampir persiapan kekeringan, karena prakiraan BMKG di akhir Mei sampai Juni kekeringan. Namun, akhir Mei masih hujan dan banjir seperti ini,” pungkasnya.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini