ramadan 2026

Bukan Sekadar Kayu, Ritual Wiwitan dan Rahasia Kekuatan Ukir Pesisir

waktu baca 3 menit
Sabtu, 14 Mar 2026 15:04 0 25 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Di tengah hiruk-pikuk industri kayu modern yang serba masif, ada sebuah tradisi sunyi yang masih dijaga dengan khidmat oleh para pengukir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Sebelum mata pahat menyentuh permukaan kayu, ada sebuah tahapan awal yang disebut Wiwitan.

Bagi Roni, salah satu pengukir Jepara yang menjaga tradisi tersebut, Selametan Wiwitan bukan sekadar seremoni formalitas semata, melainkan gerbang spiritual yang menentukan “ruh” dari setiap guratan motif yang dihasilkan.

Secara harfiah, Wiwitan berarti “awal” atau “permulaan”.

Dalam konteks penciptaan seni ukir, ritual ini merupakan bentuk penyucian niat.

Roni percaya bahwa kayu adalah benda hidup yang memiliki energi dan untuk mengolahnya menjadi sebuah karya seni, seorang seniman harus terlebih dahulu “meminta izin” kepada Sang Pencipta dan alam semesta.

“Intinya adalah berdoa dan berniat. Orang Jawa itu memulai sesuatu selalu dengan niat yang bersih,” ungkap Roni usai melakukan Wiwitan untuk pembuatan karya Pameran TATAH 2026 pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Di bengkel kerjanya di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, ritual ini dilakukan dengan kesederhanaan yang mendalam, yakni dengan doa bersama dan selamatan kecil.

Proses ini bertujuan untuk melepaskan ego pribadi seniman, sehingga tangan yang bekerja nantinya bukan digerakkan oleh ambisi semata, melainkan oleh ketulusan batin.

Buah karya ukiran yang dikerjakan Roni ini nantinya akan ditampilkan di Pameran Tatah 2026 yang rencananya akan diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada April 2026 mendatang.

BACA JUGA :  Hadapi Musim Kemarau, PDAM Pati Pastikan Pelanggan Tidak Kekurangan Pasokan Air

Dalam pemahaman tradisi Jawa, setiap proses penciptaan, seringkali dimaknai sebagai sebuah perjalanan batin.

Wiwitan menjadi langkah pertama dalam perjalanan tersebut, sebuah laku yang menempatkan kerja sebagai bagian dari relasi manusia dengan yang ilahi.

Dari keteduhan batin itulah, lahir karya yang tidak sekadar menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga memuat rasa.

Garis-garis ukiran yang meliuk, spiral, dan organik dalam tradisi ukir Jepara tidak semata menjadi pola yang mati.

Ia tumbuh seperti sulur yang hidup, mengikuti irama tangan pengukir yang bekerja dengan kesabaran.

Dalam proses yang demikian, motif tidak hanya hadir sebagai ornamen, tetapi sebagai bahasa rupa yang menyimpan pengalaman spiritual dan kedalaman tradisi.

Di tengah tuntutan produksi massal yang serba cepat, memilih untuk melakukan Wiwitan adalah sebuah keberanian.

Roni dan banyak pengukir lain tetap mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari cara mereka memaknai pekerjaan.

Bagi mereka, kualitas sebuah mahakarya tidak hanya diukur dari kehalusan teknik, tetapi dari seberapa besar energi doa dan perenungan yang tertanam di dalamnya.

“Saya mencoba menerjemahkan tradisi ini ke masa kini. Esensinya tetap saya pegang,” jelas Roni.

Roni menyebut, Wiwitan mengajarkan bahwa setiap keping kayu yang ditatah, membawa tanggung jawab budaya dan sejarah panjang Jepara.

Sejarah yang mempertemukan berbagai pengaruh Hindu, Buddha, Islam, serta beragam etnisitas yang kemudian membentuk harmoni visual dalam tradisi ukir pesisir Jawa.

Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, lanjut Roni, tradisi seperti Wiwitan mungkin tampak sederhana.

Ia tidak selalu terlihat dalam hasil akhir sebuah ukiran, tidak pula menjadi bagian dari proses industri yang terukur.

Namun justru dalam kesunyian itulah nilai-nilai yang membentuk identitas ukir Jepara terus dijaga.

BACA JUGA :  Gus Yasin Hadiri Upacara HUT RI ke-80 di Pati

Kesadaran inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan dalam pameran seni ukir berbasis riset dan sejarah Pameran Tatah 2026.

Melalui praktik-praktik seperti Wiwitan, pameran ini ingin menunjukkan bahwa ukir Jepara bukan sekadar komoditas furnitur, melainkan perwujudan dari keahlian masyarakat yang berakar pada laku spiritual dan tradisi panjang.

Dengan mengawali proses secara benar melalui Wiwitan, karya-karya yang akan dipamerkan diharapkan menjadi sebuah “jendela” bagi dunia untuk melihat sisi modernitas Jawa yang tetap bersahaja dan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan.

Bagi Roni dan tim yang terlibat dalam Pameran Tatah 2026, menjaga kearifan lokal bukan berarti menolak zaman, melainkan memastikan bahwa dalam setiap kemajuan, manusia tidak kehilangan pegangan pada akar yang paling dalam.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini