Yheni, Guru Honorer Pati Berjuang Sambung Hidup dengan Keahlian Seni

waktu baca 3 menit
Sabtu, 2 Mei 2026 14:03 0 26 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Pada momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seyogyanya menjadi ajang untuk refleksi bagi pemerintah untuk melirik sektor pendidikan sebagai prioritas utama membangun bangsa.

Namun, kenyataannya masih banyak pendidik atau guru yang nasibnya terkatung-katung karena kebijakan yang kurang memihak.

Salah satu guru honorer di Kabupaten Pati, Yheni Aprilia Susanti, menyampaikan jika dirinya harus menjalani kewajiban sebagai pengajar di sekolah dengan gaji yang pas-pasan.

Setiap bulan ia menerima honor dari sekolah senilai Rp345 ribu.

“Saat ini masih GTT (Guru Tidak Tetap) atau honorer sejak tahun kemarin (2024). Gaji Rp345.000,” sebut guru seni di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Tambakromo saat diwawancarai awak media, Sabtu, 2 Mei 2026.

Wanita berusia 26 tahun itu mengeluh karena gaji dari mengajarnya tak cukup menutup kebutuhan hidup.

Bahkan, untuk transportasi sehari-hari saja kurang.

Oleh karena itu, ia mencari kerjaan sampingan yang dikuasai.

“Kalau boleh jujur, untuk bensin saja tidak meng-cover, tapi dijalani. Saya mencari kesibukan keahlian yang dibidangi seperti mendirikan sanggar seni untuk melatih tari. Kalau ada panggilan sekolah atau instansi lain melatih di sana,” ungkap perempuan asal Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati.

Diketahui, Yheni melatih tari untuk anak-anak sebagai job sampingannya.

Ia sering diminta melatih ekstrakurikuler di sejumlah sekolah, pondok pesantren (Ponpes), bahkan instansi pemerintahan.

Setiap hari Minggu, murid-muridnya datang ke sanggar untuk berlatih tari.

Ia mengajar tari tradisional, semi modern, maupun modern.

BACA JUGA :  Rokok Ilegal Senilai Rp16,64 Miliar Digagalkan Beredar

Teknik-teknik menari dengan unsur wiraga, wirama, dan wirasa ia ajarkan ke anak didik di Kecamatan Gabus dan sekitarnya.

Kini, ia sudah memiliki 50 murid di Sanggar Prigel Bromastro.

Setiap pertemuan tarifnya hanya Rp5.000 saja.

Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu juga aktif berkegiatan seni untuk menambah pundi-pundi rupiahnya.

Yheni kerap nge-job menari maupun menyinden di berbagai event.

Ia sendiri sudah berbakat sejak belia.

Bahkan menggeluti dunia tarik suara campursari sejak duduk di bangku SMP.

Dirinya juga memanage waktu antara kuliah dengan kerjaan cucuk lampah ketika masih duduk di semester 8.

“Ngajar hari Minggu seminggu sekali. Kalau ada job bisa tukar jam dengan guru lain atau berkoordinasi dengan guru lain yang piket,” ungkapnya.

Dalam membagi waktu antara mengajar dan job di luar sekolah, Yheni memohon izin berkomunikasi dengan pihak sekolah.

Sesekali pihak sekolah mengizinkannya untuk menyempatkan kerja di sela-sela mengajar.

“Kalau malam ada job nyinden genre campursari. Kalau pagi atau siang nari cucuk lampah untuk mencari pemasukan lain,” imbuh Yheni.

Ia bercita-cita sejahtera menjalani nasibnya sebagai guru.

Juga tengah berjuang menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) jabatan guru, meskipun kuota ASN pada formasi guru seni amat sangat minim di Kabupaten Pati.

Menurutnya, kesempatan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di jabatan guru seni lewat jalur Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan di Kabupaten Pati tidak ada.

Artinya, ia kesulitan untuk berjuang menjadi ASN di wilayahnya sendiri, terlebih saat ini ia sudah berkeluarga dan beranak satu.

“Ada harapan menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) karena cita-cita bapak saya bisa bermanfaat sebagai pengajar dengan masuk ASN. Tahun ini semoga ada kuota (guru seni) di Pati untuk lulusan PPG (Pendidikan Profesi Guru) Prajabatan, karena saya tidak bisa berjuang melalui jalur Dapodik (data pokok pendidikan),” paparnya.

BACA JUGA :  Bawaslu Pati Temukan 576 Pencegahan Pelanggaran Pemilu 2024

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini