Foto: Pompa Air Tenaga Surya di Sayung (Mondes/Istimewa) SEMARANG – Mondes.co.id | Di Dukuh Lengkong, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak berdiri sebagai simbol ikhtiar baru yaitu Pompa Air Tenaga Surya (PATS).
Ini menjadi Asa baru di tengah kawasan pesisir yang selama bertahun-tahun bergulat dengan Rob.
PATS Sayung ini baru saja diresmikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Tan Yasin Maimoen.
Ada satu pesan sederhana namun tegas, penanganan rob tak lagi mengandalkan cara lama yang mahal dan boros energi.
“Kalau hanya pompa, itu solusi pertama. Tapi kita juga harus berpikir jangka panjang,” ujar Ahmad Luthfi, kemarin.
Panel-panel surya sudah dicoba dua hari lalu. Tak berbunyi, tak berasap.
Hanya cahaya matahari yang jatuh perlahan di permukaannya, lalu diubah menjadi energi yang menggerakkan pompa air di bawah sana.
Pompa yang diresmikan itu bukan pompa biasa.
Ia bekerja dengan sistem hibrid yang mengandalkan energi matahari di siang hari dan otomatis beralih ke listrik saat malam atau cuaca mendung.
Matahari sebagai sumber daya utama. Panel surya menangkap sinar matahari dan mengonversinya menjadi listrik arus searah.
Energi inilah yang kemudian dialirkan ke inverter atau langsung ke motor pompa, tergantung pada sistem yang digunakan.
Saat matahari kian tinggi, listrik yang dihasilkan pun semakin kuat, dan pompa bekerja lebih optimal mengalirkan air.
Tanpa perlu sakelar manual, tanpa ketergantungan pada solar berbahan bakar minyak yang selama ini menjadi beban anggaran.
Air yang dipompa bisa berasal dari sungai, saluran, atau genangan rob.
Ia didorong naik melalui pipa, lalu dialirkan ke lahan pertanian, kolam penampung, atau langsung ke saluran pembuangan.
Tanpa bahan bakar, tanpa ketergantungan pada listrik jaringan.
Pompa ini bekerja mengikuti ritme alam, aktif saat matahari bersinar, berhenti ketika senja tiba. Di situlah keistimewaannya.
Pompa air tenaga surya bukan sekadar mesin, melainkan cara baru berdamai dengan lingkungan.
Ia mengandalkan energi yang tersedia setiap hari, memangkas biaya operasional, dan memberi solusi berkelanjutan bagi wilayah yang kerap kekurangan air atau dilanda genangan.
Saat matahari terbit, harapan ikut mengalir bersama air yang bergerak pelan, namun pasti.
Bagi Pemprov Jawa Tengah, PATS Sayung bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan model.
Model penanganan rob yang lebih hemat, lebih bersih, dan lebih berkelanjutan.
Ahmad Luthfi menyebut, ke depan energi terbarukan akan menjadi bagian penting dalam berbagai sektor, bukan hanya pengendalian banjir.
“Ini akan kita jadikan contoh. Bukan hanya untuk rob, tapi juga untuk pertanian, perikanan, bahkan perkantoran,” katanya.
Bagi Bupati Demak Esti’anah, kehadiran PATS ini terasa seperti angin segar.
Selama ini, pompa air memang tersedia di banyak titik rawan banjir, tetapi biaya BBM kerap menjadi persoalan klasik.
“Pompa ada, tapi BBM-nya berat. Dengan tenaga surya, ini jadi solusi yang sangat efektif. Alhamdulillah, respons dari Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur cepat sekali,” ujar Esti’anah.
Ia berharap, skema serupa bisa direplikasi di titik-titik rawan rob lainnya di Demak, agar penanganan banjir tak lagi bersifat tambal sulam.
Di balik pompa itu, ada perhitungan teknis dan efisiensi yang matang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menjelaskan, PATS Sayung menggunakan dua unit pompa dengan kapasitas masing-masing 125 liter per detik.
“Pokoknya sangat efisien. Siang hari semua operasional pakai solar cell. Malam baru pakai listrik. Biayanya jauh lebih murah,” kata Henggar.
Menurutnya, jika menggunakan pompa berbahan bakar BBM, biaya operasional bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulan. Dengan sistem tenaga surya, beban itu nyaris hilang.
“Paling kita hanya menyiapkan biaya listrik. Estimasinya sekitar Rp1,5 juta per bulan. Masih akan kita hitung pastinya setelah sebulan beroperasi penuh,” ujarnya.
Pompa ini didukung 74 panel surya berkapasitas masing-masing 720 Watt peak, dengan total daya mencapai 66 Kilowatt peak.
Saat matahari bersinar penuh, energi terbarukan sepenuhnya menggerakkan pompa.
Ketika cahaya berkurang, sistem otomatis beralih ke listrik PLN tanpa jeda.
Pelaksanaan pekerjaan PATS dimulai pada 16 Oktober 2025 dan selesai pada 22 Desember 2025 atau 68 hari kalender.
Di tengah ancaman rob yang belum sepenuhnya pergi, pompa tenaga surya di Sayung memberi satu pelajaran.
Berhadapan dengan alam tak selalu harus dengan biaya mahal, tetapi dengan kecerdasan, kolaborasi, dan keberanian mencoba cara baru.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar