Sempat Tertatih, Pria Karaban Ini Jadi Pengusaha Kapuk Sukses hingga Pasar Mancanegara

waktu baca 5 menit
Senin, 29 Jun 2026 11:16 0 57 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Pria asal Desa Karaban, Afif Khoirul Hidayat, menjadi pelaku usaha kapuk yang menebar kebermanfaatan dan inspirasi bagi Kabupaten Pati.

Pasalnya, Afif sukses membawa nama Kabupaten Pati, khususnya Desa Karaban sampai ke mancanegara, berkat ekspor usaha kapuk yang dijalankan.

Usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Dengan produksi kapuknya, mengenalkan serat pohon randu yang berguna bagi keperluan industri skala besar.

“Saya membeli bahan baku dari pengepul, lalu saya produksi seperti sekarang ini di gudang. Kami jemur bahan baku, ketika sudah kemudian digiling, dibagi menjadi dua produk yaitu biji dan kapuk fiber,” ungkapnya, Senin, 29 Juni 2026.

Afif memproduksi kapuk fiber dengan memanfaatkan kekayaan alam di Kabupaten Pati, terlebih di Bumi Mina Tani banyak sekali pohon randu yang kaya seratnya.

Ditambah, kebutuhan industri mendukung terpenuhinya serapan kapuk fiber, sehingga ia mampu menjangkau pasar internasional.

Setiap pengirimannya mampu mengerahkan 12 truk kontainer.

Ia mengemas kapuk fiber untuk dikirim menembus mancanegara, guna keperluan industri.

Ketika sudah sampai sana, kapuk fiber dimanfaatkan untuk media isian bantal, guling, kasur, dan bahan baku tekstil pakaian.

“Kita ekspor lalu kita packaging sesuaikan negara mana, kalau saat ini saya baru ekspor ke Bangladesh, India, dan Pakistan. Bobot per pack bisa 25 sampai 30 kilogram,” sebutnya.

Sejauh ini, ekspornya sudah menjangkau wilayah Benua Asia Selatan.

Ia menarget ekspornya juga menjangkau Benua Asia Timur, Amerika, dan Eropa.

BACA JUGA :  Bawaslu Ingatkan Petinggi Desa Netral dalam Pilkada

“Ke depan rencana ke China, Italia, Turki, Amerika Serikat. Kalau di India dan Bangladesh, kapuk ini menjadi isian bantal, guling, kasur, dan bahan baku tekstil seperti pakaian yang kita pakai. Di China juga bisa dibuat benang wol dan bahan jok mobil,” papar lelaki berusia 30 tahun itu.

Respons market internasional yang sangat bagus, membuat Afif selalu menjaga kualitas barang yang diproduksi.

Ia juga mengapresiasi pemerintah Indonesia karena telah memudahkan kepengurusan dokumen-dokumen ekspor dengan regulasi yang dibuat.

“Menjaga kualitas jadi sangat utama. Dari awal kita standarisasi proses penjemuran harus kering 99 persen tingkat kekeringannya, dalam penyortiran harus bersih dengan serat panjang dan warna putih jadi pertimbangan kita mampu ekspor ke luar negeri,” katanya.

Menurutnya, potensi pohon randu sangat banyak, sehingga bisa diolah menjadi produk-produk unggulan.

Selain seratnya menjadi kapuk fiber, ternyata bijinya juga dapat menjadi minyak kapuk.

Di samping itu, ekstrak biji kapuk dengan nama bungkil, bisa menjadi pakan ternak.

Bahkan, kebutuhan pakan ternak di Korea banyak yang mencampurkan bungkil ke dalam konsumsi ternak.

“Kapuk ada turunannya, yakni biji kapuk ketika diolah serius skala eskpor seperti minyak bisa dimanfaatkan, ada permintaan di Amerika Serikat dijadikan bahan olesan daging. Bungkil juga bisa diekspor ke Korea dijadikan bahan pakan ternak,” paparnya mengacu pada bacaan yang ia ketahui.

Di sisi lain, menjalani usaha pengolahan kapuk fiber tidaklah mudah.

Afif sempat montang-manting menjalani bisnis yang dirintisnya sejak 2020.

Sebelum ia memulai bisnis di Desa Karaban, Afif merupakan seorang pegawai di kantor pemerintahan.

Ia sempat bekerja di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di bawah perintah Menteri Kominfo (Menkominfo) saat itu, Rudiantara.

BACA JUGA :  Momen Hari Pahlawan, Diharap Ada Penerus Perjuangan di Jepara

Bekerja dengan rutinitas seperti itu, membuatnya merasa jauh dari ajaran agama.

Pria yang berlatar belakang santri, akhirnya memutuskan berhenti dari pekerjaannya, kemudian memulai bisnis di kampung halaman sesuai cita-citanya menjadi entrepreneur.

“Ketika kerja di sana berangkat pagi, pulang sore, malam capek, merasa semangat beribadah kurang dan menyapa orang tua sulit sekali. Itu menjadikan saya semakin semangat jadi entrepreneur, menadi be independen dan be flexible,” tegasnya.

Ketika pulang ke Kabupaten Pati, ia kesulitan memulai bisnis, bahkan rasa pesimis membayanginya.

Hingga kemudian, Afif mencoba melamar pekerjaan sana-sini.

Memanfaatkan media sosial (medsos), ia mengunggah produk industri kapuk.

Kemudian, ada pihak yang menghubunginya untuk bekerja sama.

Walaupun kala itu banyak anggapan penipuan dari berbagai pihak.

“Sempat di tengah jalan merasa tidak optimis karena buat apa postingan saya yang tidak tahu ujungnya seperti apa, akan tetapi di tengah pesimis, saya percaya barangkali dengan usaha kecil menjadikan pintu rezeki saya. Tak lama kemudian, saya mendapat peluang, ada trader menghubungi saya untuk dibikinkan kapuk fiber untuk dieskpor,” jelasnya.

Ia semakin serius menggeluti usaha pengolahan kapuk fiber, sudah 6 tahun usahanya berjalan.

Pria bergelar Sarjana Administrasi Bisnis itu, ternyata pernah tertipu dengan nominal yang besar dan hampir membuatnya stres.

“Akhir 2021 ada pengalaman luar biasa kena tipu dengan total kerugian setengah miliar, saya trauma pada usaha ini, ketika mau melihat kontainer saya takut memulai bisnis ini kembali. Pada saat itu ada dua pilihan, menjadi gila atau tetap menjalani usaha ini dengan keputusasaan,” ungkapnya.

Namun, dengan berpegang pada keyakinan, ia bangkit dari keterpurukan.

“Menjadi orang gila saya tidak pernah memikirkan orang lain, dipenjara, dituduh apapun enggak masalah. Tapi, sebagai seorang santri, saya memiliki iman, kita memiliki cahaya dan keyakinan bahwa masalah datang dari Allah dan kembali kepada Allah, sehingga diberikan petunjuk jalan keluar oleh Allah,” imbuh Afif.

BACA JUGA :  Pati Usulkan Kebutuhan Elpiji Sebanyak 42.804 MT untuk Tahun Depan

Usahanya mampu menggerakkan perekonomian masyarakat Desa Karaban.

Ia bangga dengan ikhtiarnya yang berbuah manis.

“Cukup menyerap lapangan pekerjaan di Desa Karaban dan sekitarnya, berdampak baik untuk ekonomi Desa Karaban. Alhamdulillah welas asih Gusti Allah kita berkesempatan ekspor. Dari ekspor itulah saya termotivasi untuk menjadi lebih bermanfaat untuk banyak orang,” pungkas Afif.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini