Tinjau Kekeringan Bendung Karet, DKP Pati akan Pantau Populasi Ikan Sapu-sapu

waktu baca 2 menit
Jumat, 4 Sep 2026 16:44 0 4728 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten, Hadi Santosa, mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Silugonggo memang menjadi sorotan para nelayan.

gempur rokok ilegal rembang

Sebab, populasi ikan invasif ini mengalami peningkatan sejak awal tahun 2026.

“Sebenarnya sejak awal tahun 2026 ini populasi ikan sapu-sapu meningkat tajam di Sungai Juana (Silugonggo), dan ini mengganggu populasi ikan yang lain. Sehingga para nelayan mengeluh karena terlalu banyak ikan sapu-sapu yang sifatnya invasif memakan ikan lain. Saat ini, ternyata dengan keringnya Sungai Juana, ikan sapu-sapu dan ikan yang lain banyak yang mati. Dan terutama sebelum Bendung Karet,” kata Hadi saat ditemui awak media, Jumat, 4 September 2026.

Terkait dengan potensi bahaya ikan sapu-sapu terhadap ekosistem, Hadi mengatakan ikan itu akan mati sendiri setelah sungai mengering.

“Kalau sudah mati ya sudah, kalau kering nanti mati sendiri,” ujarnya.

DKP Kabupaten Pati akan memantau perkembangan populasi ikan sapu-sapu ini di Sungai Juana.

“Ikan ini alami, mudah adaptasi dengan lingkungan apapun, sehingga bisa hidup di Sungai Juana. Ke depan akan kita pantau, kalau ikan sapu-sapu sudah mati, semoga ke depan tidak ada lagi ikan sapu-sapu,” katanya.

Sebelumnya, Dewan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Hendi Hendro, menyarankan keberadaan ribuan ikan sapu-sabu tersebut, sebaiknya segera dibersihkan.

Pemusnahan bisa dilakukan dengan cara dibakar atau dikubur.

“Sebaiknya ikan sapu-sapu segera dibersihkan dibakar atau ditanam (dikubur),” terang Hendi beberapa waktu lalu.

BACA JUGA :  Tak Terpaku Persentase, Wahyu-Suharyono Yakin Menangi Pilkada Pati

Hal tersebut, lantaran jika tidak segera dimusnahkan, maka akan berbahaya untuk ekosistem perairan.

“Ikan sapu-sapu merupakan ikan invasif, organisme pemakan ikan lain, predator, cepat berkembang biak, tahan hidup di kondisi ekstrem, jika tidak dimusnahkan berbahaya,” pungkasnya.

Editor: Mila Candra

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini