LESTARI: Dalang cilik dari Sindhu Laras Bocah saat tampil di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (Mondes/istimewa)
SEMARANG, Mondes.co.id | Di era ketika anak-anak lebih akrab dengan layar ponsel, sekelompok anak di Semarang justru memilih gamelan dan pedalangan sebagai ruang bermain dan belajar. Lewat pagelaran seni, mereka menunjukkan bahwa budaya Jawa masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras Bocah digelar di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, akhir pekan kemarin. Panggung itu menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya bisa dimulai sejak usia dini.
Ketua Sindhu Laras Bocah, Dananjaya Gesit mengatakan, kegiatan ini bertujuan menanamkan kecintaan terhadap budaya Jawa sejak kecil. Ia menilai, di tengah derasnya perkembangan teknologi, anak-anak perlu kegiatan positif yang membentuk karakter.
“Tujuan kami nguri-uri budaya Jawa sejak dini. Anak-anak sekarang sangat dekat dengan handphone. Kami ingin memberikan kegiatan yang positif supaya mereka tidak terlalu larut dalam pengaruh negatif handphone,” kata Dananjaya.
Sarana Pelestarian Nilai-nilai Budaya
Lebih dari sekadar seni, karawitan dan pedalangan menurutnya menjadi sarana pembentukan disiplin, kerja sama, keberanian tampil, serta pemahaman tentang unggah-ungguh dan nilai kehidupan dalam budaya Jawa.
“Kalau budaya sudah dikenalkan sejak dini, harapannya generasi muda ke depan menjadi lebih bagus. Mereka bisa mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tetapi tetap punya pegangan budaya dan karakter,” ujarnya.
Dananjaya menegaskan pelestarian budaya tidak bisa dilakukan instan. Anak-anak harus mengalami langsung agar tumbuh rasa memiliki terhadap warisan leluhur.
Hal itu tampak dalam pagelaran tersebut. Dengan percaya diri, anak-anak memainkan gamelan dan pedalangan di hadapan masyarakat. Mereka belajar berinteraksi, bekerja sama, dan mengekspresikan kreativitas melalui kesenian tradisional.
Penjaga Identitas Daerah
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi. Ia menyebut keterlibatan anak-anak dalam seni tradisional merupakan langkah penting menjaga identitas daerah.
“Terima kasih kepada Sindhu Laras Bocah. Kami sangat mengapresiasi anak-anak yang hari ini tampil dan ikut menjaga budaya kita. Ini yang membuat kita senang karena melihat generasi emas yang sangat berbakat sekaligus memiliki kepedulian terhadap budaya,” ujar Iswar.
Ia berpesan agar anak-anak tetap maju mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan akar budaya. “Maju boleh, modern harus, tetapi jangan sampai melupakan budaya. Jaga kesehatan, terus belajar dan berkarya, serta bawa nama baik Kota Semarang di mana pun berada,” pesannya.
Dari panggung sederhana di TBRS, pesan besar pun muncul. Pelestarian budaya tidak harus menunggu dewasa. Ketika anak-anak sudah mengenal gamelan, pedalangan, dan nilai kebersamaan, estafet budaya Jawa sesungguhnya telah berjalan. Di tangan mereka, karawitan dan pedalangan menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Redaksi
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini