Foto: Rais Syuriyah PCNU Jepara, KH. Hayatun Nufus Abdullah Hadziq Al Hafidz, menyampaikan pandangannya saat ditemui di kediaman Katib Syuriyah, KH. Muhammad Nasrullah Huda, di Tegalsambi, Tahunan, Jepara (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara secara tegas menyatakan dukungannya agar Pondok Pesantren (PP) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dipilih sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026.
Dukungan tersebut mencuat, menyusul pengumuman dari Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Amin Said Husni.
Setelah rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Jakarta kemarin, ia menyebutkan ada 9 pondok pesantren di 5 provinsi yang masuk dalam radar survei lokasi muktamar.
Kesembilan pesantren yang menjadi calon lokasi tersebut tersebar di berbagai wilayah.
Antara lain Sumatera Barat di PP Syekh Al Falah (Padang), DKI Jakarta di PP Darur Rahman dan PP Al Hamid, Jawa Barat di PP Buntet, PP Kempek, dan PP Babakan Ciwaringin (Cirebon).
Kemudian, Jawa Timur di PP Lirboyo (Kediri) dan PP Tambakberas (Jombang), Nusa Tenggara Barat di PP Qomarul Huda (Bagu, Lombok).
Tim yang dipimpin oleh Ketua Steering Committee (SC) Muktamar, KH. Ahmad Said Asrori, bersama Sekretaris SC, Prof. Dr. Muhammad Nuh, dijadwalkan melakukan survei lapangan pada Sabtu–Minggu tepatnya tanggal 4–5 Juli 2026.
Hasil akhir survei ini akan diumumkan dalam rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah pada Selasa, 7 Juli 2026.
Merespons rencana survei tersebut, Rais Syuriyah PCNU Jepara, KH. Hayatun Nufus Abdullah Hadziq Al Hafidz, menyampaikan pandangannya saat ditemui di kediaman Katib Syuriyah, KH. Muhammad Nasrullah Huda, di Tegalsambi, Tahunan, Jepara.
Menurut ulama yang akrab disapa Mbah Yatun ini, PBNU seyogianya lebih mendengarkan masukan dari para kiai sepuh untuk pelaksanaan muktamar pertama di abad kedua NU ini.
“Memang ada sembilan pondok pesantren yang diusulkan. Namun, mestinya PBNU lebih mendengar saran dan pendapat kiai sepuh NU seperti KH. Nurul Huda Djazuli Ploso dan KH. Anwar Manshur Lirboyo untuk menetapkan Lirboyo sebagai lokasi Muktamar,” ujar Mbah Yatun, Jumat (3/7/2026).
Mbah Yatun menekankan bahwa Lirboyo sebagai salah satu pesantren tertua dan terbesar dengan puluhan ribu santri memiliki jaringan alumni (Himasal) yang sangat kuat di seluruh Nusantara.
Potensi ini dinilai mampu menggalang dana secara swadaya, sehingga Muktamar NU dapat terselenggara secara mandiri melalui gotong royong warga Nahdliyin tanpa ketergantungan pada pemerintah.
“Mestinya PBNU bisa mengembalikan marwah NU dengan cara mengurangi ketergantungan kepada pemerintah, serta mendengarkan nasihat kiai-kiai sepuh yang mempunyai akar kultural kuat sebagai panutan,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan struktural NU berasal dari pesantren dan akar rumput.
“NU sebagai jam’iyyah akan menjadi macan ompong yang tidak didengar jemaahnya jika meninggalkan saran pengasuh pesantren. Saatnya PBNU mendengar suara dari cabang. Lagipula, PP Lirboyo sudah berpengalaman menjadi tuan rumah Muktamar ke-30 NU pada tahun 1999 lalu,” tegas Mbah Yatun.
Senada dengan Rais Syuriyah, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara, Kiai Charis Rohman, menyatakan kesepakatan penuh jajarannya untuk mendukung penuh pelaksanaan muktamar di lingkungan pesantren, demi menjaga marwah organisasi.
“Saya nderekke (mengikuti) pendapat Mbah Yatun. Kita semua sepakat untuk mengembalikan dan menjaga marwah NU dengan melaksanakan muktamar di pondok pesantren,” kata Kiai Charis saat dikonfirmasi terpisah.
Ia optimistis Lirboyo akan mampu mengulang kesuksesan agenda-agenda besar NU sebelumnya.
“Setelah kemarin Pesantren Ploso sukses menggelar Munas/Konbes, kini saatnya giliran Lirboyo menjadi tuan rumah Muktamar NU,” pungkasnya.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar