Pasutri Lansia Rembang Hidup dengan Kemiskinan Ekstrem, Tidur di Bekas Kandang Sapi

waktu baca 3 menit
Jumat, 26 Jun 2026 12:26 0 74 Supriyanto

​REMBANG — Mondes.co.id | Kondisi kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Salah satu potretnya terlihat pada kehidupan pasangan suami istri (pasutri) lanjut usia (lansia), Suhadi (84) dan Maryam (64), warga Desa Terjan RT 03 RW 02, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Pada usia senjanya, pasutri ini harus bertahan hidup di sebuah hunian yang jauh dari kata layak.

​Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, rumah berukuran 4×6 meter persegi yang mereka tempati, berdiri di atas tanah milik sang anak.

Bangunan tersebut bermaterialkan kayu dan bambu yang kondisinya sudah lapuk dimakan usia.

Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu bekas terlihat berlubang, beralaskan tanah, serta atap genteng yang bocor saat hujan turun.

​”Rumah yang saya tempati ini sudah tidak layak. Dinding bambunya berlubang karena menggunakan bambu bekas kandang sapi, dan lantainya masih tanah. Ranjang serta kasur pun sudah tidak layak pakai,” ujar Maryam dengan nada penuh harap, Jumat (26/6/2026).

​Di dalam ruang tidur yang sempit, kondisi memprihatinkan kian terlihat.

Kasur yang digunakan tampak usang dan kotor, di mana mereka terpaksa menggunakan karung bekas beras (blangse) sebagai pengganti kain sprei.

​Selain kendala hunian, masalah mendasar yang dihadapi pasutri ini adalah ketiadaan fasilitas Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK).

Ketiadaan sarana sanitasi ini menyulitkan mereka, terlebih dengan kondisi fisik yang terus menurun akibat faktor usia.

Sang suami, ​Suhadi menuturkan bahwa mereka kerap mengalami kesulitan saat hendak buang air besar (BAB) pada malam hari.

BACA JUGA :  Pati Sukses Raih WTP, Kepala BPK RI Perwakilan Jateng Soroti Ini

Keterbatasan penglihatan membuatnya harus bertaruh menerjang kegelapan jika terpaksa pergi ke sungai.

​”Saya sudah tua, penglihatan sudah tidak begitu jelas. Kalau malam hari sakit perut dan mau BAB, ke sungai itu sangat gelap. Kami sangat berharap ada kepedulian dari pemerintah untuk membantu pembuatan jamban atau MCK,” ungkap Suhadi.

​Untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, Suhadi yang sudah tidak lagi mampu bekerja sebagai kuli harian, kini sepenuhnya bergantung pada uluran tangan pihak lain.

Mereka mengandalkan bantuan sosial (bansos) beras dari pemerintah, serta bantuan sukarela dari para tetangga sekitar.

​Kondisi yang dialami oleh Suhadi dan Maryam menjadi salah satu indikator pentingnya urgensi pengentasan kemiskinan ekstrem di wilayah pedesaan.

Penyelesaian masalah ini dinilai tidak bisa hanya bertumpu pada program pemerintah daerah semata.

​Sangat diperlukan adanya kolaborasi dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari BUMN dan BUMD, serta kepedulian dari para pelaku usaha atau pengusaha sukses di Kabupaten Rembang.

Pihak-pihak terkait diharapkan dapat segera memberikan intervensi nyata, baik melalui program Bedah Rumah (RTLH) maupun pembangunan fasilitas sanitasi yang layak, guna meringankan beban hidup warga yang membutuhkan.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini