Foto: Hamdan Adib ketika sedang mencari jerami di sawah (Mondes/dok. pribadi) PATI – Mondes.co.id | Keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi Hamdan Adib untuk terus belajar dan berinovasi di bidang pertanian.
Latar belakang pendidikan pertanian yang dimilikinya, justru mendorong dirinya untuk mencari solusi agar dapat mandiri dan memiliki keahlian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Hamdan mengaku, sejak awal tidak memiliki cita-cita menjadi pegawai negeri maupun bekerja di instansi tertentu.
Namun, ia memiliki keinginan untuk menguasai bidang yang dipelajarinya, agar mampu membuktikan diri di tengah masyarakat.
“Saya berpikir harus punya sesuatu yang bisa diandalkan di bidang pertanian. Dari situ saya mulai belajar membuat pupuk dan pestisida organik secara mandiri,” ujarnya, Jumat, 10 Juli 2026.
Proses belajar dilakukan secara otodidak melalui berbagai sumber, mulai dari media sosial, internet, hingga pengalaman langsung di lapangan.
Berbagai kegagalan pernah dialami, sebelum akhirnya menemukan formulasi yang dinilai efektif.
Menurutnya, metode yang diterapkan saat ini memang belum sepenuhnya sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
Namun, hasil yang diperoleh di lapangan sudah menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
“Dari kegagalan sampai berhasil saya jalani. Memang belum sesuai SOP sepenuhnya, tetapi hasilnya sudah cukup bagus. Saya membayangkan kalau nanti bisa sesuai SOP, tentu hasilnya akan lebih maksimal,” katanya.
Hamdan menjelaskan, Pupuk Organik Padat (POP) yang dibuatnya, memanfaatkan berbagai bahan organik yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan.
Kotoran sapi menjadi bahan utama yang kemudian dikombinasikan dengan pelepah pisang dan bahan-bahan organik lain yang mudah terurai.
Seluruh bahan dicacah dan difermentasi hingga menghasilkan pupuk dengan tekstur yang mudah diaplikasikan ke lahan pertanian.
Menurutnya, pemanfaatan limbah organik tersebut, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk berbahan kimia.
Selain pupuk organik, Hamdan juga mengembangkan pestisida organik yang berasal dari bahan nabati maupun hewani.
Untuk pestisida hewani, ia memanfaatkan telur keong mas yang berwarna merah muda.
Berdasarkan literatur yang dipelajarinya, telur keong mas mengandung senyawa yang berpotensi menjadi bahan pengendali hama, sekaligus sumber asam amino yang bermanfaat bagi tanaman.
Sementara untuk pestisida nabati, Hamdan menggunakan berbagai tanaman yang memiliki karakter beracun, pahit, atau beraroma menyengat.
Beberapa bahan yang digunakan, di antaranya biji mahoni, daun mimba, daun sirih, bawang putih, bawang merah, serta cabai.
“Bahan-bahan itu kalau dipadukan efeknya cukup baik untuk mengendalikan hama. Bahkan pernah ampas hasil pengolahan yang dibuang dimakan bekicot dan mati. Dari situ saya semakin yakin bahwa formulasi tersebut memiliki efektivitas sebagai pestisida alami,” ungkapnya.
Pengujian berbagai formula dilakukan langsung di lahan pertanian milik keluarganya.
Karena tidak memiliki fasilitas laboratorium, Hamdan menjadikan lahan pertanian sebagai tempat penelitian, sekaligus pengembangan produk.
“Laboratorium saya ya sawah. Semua percobaan langsung saya aplikasikan di lahan untuk melihat hasilnya,” tutur pria asal Desa Rogomulyo, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.
Dalam praktik budi daya, ia juga kerap mengombinasikan pupuk organik dengan pupuk kimia, seperti urea dan phonska sesuai kebutuhan tanaman.
Menurut Hamdan, penggunaan pupuk dan pestisida organik memberikan keuntungan ekonomi yang cukup besar bagi petani.
Biaya produksi dapat ditekan karena tidak perlu membeli pestisida kimia dengan harga mahal.
“Kalau membeli pestisida kimia bisa menghabiskan hampir Rp1 juta. Sedangkan membuat pestisida organik biayanya tidak sampai Rp100 ribu. Hasil panennya juga tidak kalah dengan lahan yang menggunakan bahan kimia secara penuh,” tuturnya.
Melalui berbagai percobaan yang dilakukan secara mandiri, Hamdan berharap semakin banyak petani yang berani memanfaatkan sumber daya lokal untuk menghasilkan pupuk dan pestisida organik yang lebih murah, ramah lingkungan, dan tetap produktif.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar