Dua Kades di Rembang Keluhkan Persoalan Pabrik PT PWI ke Dinas DPMPTSP

REMBANG-Mondes.co.id | Sudah hampir dua tahun ini pabrik sepatu telah berdiri dan telah beroperasi. Wilayah berdirinya PT Parkland World Indonesia (PT PWI) antara lain masuk sebagian di wilayah Desa Sridadi Kabupaten Rembang.

Kabarnya, saat ini PT PWI telah beroperasi produksi dengan karyawan sebanyak 3.400 an. Namun keluhan- keluhan mulai bermunculan dari ring 1, ada dua desa ring 1 dari PT PWI yaitu Desa Sridadi dan Desa Gedangan Kabupaten Rembang terputus komunikasinya antara Pemerintah Desa dan managemen PT PWI.

Oleh karena tidak ada komunikasi yang nyambung, Pemerintah Desa Sridadi dan Gedangan buta mengenai kebutuhan PT seperti tenaga kerja, pekerjaan pembangunan di PT, perluasan lahan untuk pengembangan pabrik. Apalagi mengenai CSR.

Bahkan warga Desa Sridadi dan Gedangan sendiri ada yang telah melamar kerja sesuai yang disyaratkan PT PWI, namun hingga saat ini tidak ada kejelasan diterima kerja ataukah tidak. Padahal pelamar kerja dari daerah selain dari ring 1 diduga
banyak diterima kerja.

Atas dasar hal tersebut diatas, dua Kepala Desa Sridadi dan Gedangan jengkel, lalu menuliskan keluhan berbentuk Surat kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Tenaga Kerja (DPMPTSPNaker) Kabupaten Rembang, surat dikirim pada hari Selasa (22/06/2021) diterima sendiri oleh Kepala DPMPTSP Naker.

Hal itu dilakukan oleh dua desa tersebut demi kepentingan pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat di masing-masing desanya. Dua Desa diatas menyayangkan, oleh karena di waktu sosialisasi UKL UPL pabrik sepatu telah berjanji manis kepada masyarakat di desa-desa ring 1.

Kepala desa Sridadi, Nasuha, saat ditemui Selasa (22/06/2021) membenarkan, telah mengirimkan surat kepada DpmPtspNaker Rembang karena minimnya komunikasi dan kerjasama saling kerja, apalagi PT PWI menuju berkembang luas serta nantinya banyak kebutuhan tenaga kerja.

Singkronisasi komunikasi dengan desa ring 1 dituntut menjadi hal paling utama, lanjut Nasuha, apalagi pabrik besar berdiri termasuk di wilayah Desa Sridadi, dan nantinya memerlukan tenaga kerja yang tidaklah sedikit.

Ia menduga, ada diskrimasi komunikasi diantara desa-desa di ring 1. Ada salah satu desa diduga dianak emaskan oleh PT PWI, sedangkan desa ring 1 yang lain tidak tahu menahu.

“Pemerintah desa Sridadi pernah mengirimkan dua surat ke PT PWI, tidak ada respon oleh perusahaan, dibalaspun tidak; berarti ada komunikasi yang kurang baik”, jelas Nasuha.

Kepala desa Gedangan, Sodik, saat ditemui Selasa (22/06/2021) juga membenarkan, ada indikasi semacam monopoli salah satu desa ring 1 namun ia enggan menyebut desanya. Ia juga membenarkan bahwa Desa Gedangan telah kirimkan surat ke DpmPpspNaker.

“Ada Kepala Desa yang dianak emaskan, dan ada desa yang sama sekali tidak ada komunikasi. Padahal sama- sama desa ring 1 pabrik sepatu PT PWI, inilah yang memunculkan kecemburuan, Desa Gedangan juga tidak pernah dikasih apa-apa,” papar Sodiq.

Sodiq juga bercerita, ia sendiri waktu dulu justru malah terlibat saat pembebasan lahan pertama kalinya Pabrik sepatu mau berdiri, sepeserpun tidak ada uang lelah .

Saat itu ada 50 an pemilik lahan yang hak milik tanahnya adalah warga-warga desa Gedangan, namun ia berkata ikhlas niatnya hanya membantu warga dan supaya pabrik berdiri untuk mengurangi pengangguran.

Kepala DpmPtspNaker kabupaten Rembang, Teguh Gunawarman, saat dimintai konfirmasi mengenai surat dari dua desa Sridadi dan Gedangan, benar telah menerimanya, ia juga akan segera menindaklanjuti secepatnya.

(Handoko/Mondes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.