Banyak Hajat Sedekah Bumi dan Nikahan, PLN Pati Upayakan Langkah Antisipatif

waktu baca 2 menit
Sabtu, 6 Jun 2026 12:29 0 35 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Bulan Dzulhijjah menjadi momen yang dimanfaatkan masyarakat menggelar banyak kegiatan yang berhubungan dengan sosial, seperti sedekah bumi dan resepsi pernikahan.

Fenomena ini juga termasuk di wilayah Kabupaten Pati.

Hal ini menyebabkan penggunaan listrik menjadi meningkat.

Manajer Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Pati, Kahfi Fikar Akbar, menyebut kenaikan beban puncak terjadi pada saat sore dan malam hari.

Pasalnya, pengguna lampu daya tinggi dan sound system meningkat.

“Karakteristik bulan Dzulhijjah di Pati sangat khas dengan maraknya kegiatan masyarakat, mulai dari hajatan pernikahan, sedekah bumi, hingga festival budaya. Kegiatan ini jelas berdampak pada kenaikan beban puncak kelistrikan, terutama di sore hingga malam hari karena penggunaan panggung hiburan, lampu dekorasi, dan sistem suara (sound system) berkapasitas besar secara serentak,” terangnya kepada Mondes.co.id, Sabtu, 6 Juni 2026.

Meski demikian, masyarakat Kabupaten Pati tetap dapat mendapatkan layanan listrik dengan aman karena pihak PLN telah melakukan pemeliharaan gardu induk.

Hal ini membuat kondisi ketenagalistrikan di Kabupaten Pati mampu menopang lonjakan beban tersebut.

PLN wilayah Kabupaten mengambil langkah strategis, yakni memberi layanan multiguna, kesiapsiagaan personel, dan pemantauan beban trafo.

Tujuannya, mengambil langkah sejak dini dalam memastikan ketenagalistrikan aman.

“Layanan multiguna ini kami mempermudah warga yang punya hajat untuk membeli saya temporer melalui aplikasi PLN Mobile. Jadi mereka tidak perlu khawatir listrik rumahnya jepret atau mengganggu tetangga,” urainya.

Kahfi menyampaikan, tim pelayanan teknik PLN siaga 24 jam.

BACA JUGA :  Menkop Sebut KDMP Jadi Momentum Dongkrak Kesejahteraan Masyarakat

Mereka standby di berbagai posko wilayah Kabupaten Pati untuk merespons cepat jika ada gangguan total.

“Tim pelayanan teknik kami siaga 24 jam dengan sistem piket ketat di berbagai posko wilayah Pati untuk merespons cepat jika ada gangguan lokal. Kami memonitor trafo-trafo di area permukiman yang sedang padat acara agar bisa dilakukan manuver beban jika kapasitasnya mulai kritis,” tuturnya.

Dipaparkannya, pemeliharaan jaringan listrik dilakukan secara terencana.

Durasi pemadaman listrik ketika pemeliharaan berlangsung antara 3 sampai 5 jam.

“Secara SOP (Standar Operasional Prosedur) untuk pemeliharaan jaringan terencana, kami menargetkan durasi padam berkisar antara 3 hingga 5 jam saja per sesi. Kami selalu mengupayakan pengerjaan seefisien mungkin agar tidak mengganggu produktivitas masyarakat,” katanya.

Jika ada pemadaman yang melebihi durasi tersebut, biasanya terjadi karena adanya kendala teknis tambahan di lapangan atau faktor keselamatan kerja yang harus diutamakan.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini