Foto: Baznas Jepara menyiapkan para mahasiswa penerima beasiswa untuk melakukan monitoring dan pendampingan mustahik (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Jepara menerjunkan 47 mahasiswa penerima Beasiswa Mahasiswa Produktif (BMP).
Puluhan mahasiswa ini ditugaskan untuk melakukan monitoring dan pendampingan langsung kepada para mustahik (penerima zakat) produktif di wilayah tersebut.
Sebelum turun ke lapangan, para mahasiswa dikumpulkan di Kantor BAZNAS Jepara untuk mendapatkan pembekalan intensif.
Ketua BAZNAS Jepara, M. Nasrullah Huda, menjelaskan bahwa sejak awal para penerima beasiswa tidak hanya mendapatkan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial yang dikelola BAZNAS.
“Setiap bulan kami sudah menunaikan janji menyalurkan bantuan beasiswa. Sebagai timbal baliknya, adik-adik diminta membantu tugas BAZNAS. Ini adalah bentuk komitmen. Selain itu, tugas lapangan ini akan memberikan bekal ilmu dan pengalaman berharga yang tidak didapatkan di bangku kuliah,” ujar pria yang akrab disapa Gus Huda tersebut, Jumat (3/7/2026).
Gus Huda memaparkan, ada dua agenda utama yang menjadi tanggung jawab para mahasiswa penerima BMP.
Mereka diminta melakukan verifikasi dan penilaian terhadap calon penerima zakat yang baru.
Kemudian, memantau perkembangan usaha para mustahik yang telah menerima bantuan modal produktif periode tahun 2021 hingga 2025.
Menurut Gus Huda, langkah pemantauan ini sangat krusial karena bantuan yang disalurkan bersifat produktif dan berkelanjutan, bukan bantuan habis pakai.
BAZNAS perlu melihat dinamika riil di lapangan untuk mengetahui apakah usaha para mustahik masih bertahan, berhenti, atau justru sudah berkembang.
“Ini adalah tugas mulia, menjadi perantara ibadah zakat dari muzaki ke mustahik. Untuk itu, semuanya harus diniatkan ibadah,” tegas Gus Huda di hadapan empat Wakil Ketua BAZNAS yang turut hadir.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Jepara, Kusdiyanto, mengungkapkan bahwa aksi turun lapangan ini dijadwalkan berlangsung pada 5-10 Juli 2026.
Untuk menjaga efektivitas kerja, para mahasiswa diplot berdasarkan kedekatan geografis.
Mereka akan melakukan monitoring di desa masing-masing atau wilayah terdekat dari domisili mereka.
“Setiap mahasiswa nantinya bertanggung jawab memantau perkembangan 20 mustahik. Agar profesional, mereka dibekali kartu identitas resmi, rompi, dan surat tugas. Sebelum bergerak, mereka juga diwajibkan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat,” jelas Kusdiyanto.
Ia menambahkan, program monitoring ini membawa misi besar untuk memetakan kondisi ekonomi mustahik, sekaligus menyuntikkan motivasi agar mereka konsisten mengembangkan usahanya.
“Tujuan akhirnya adalah mendorong kemandirian ekonomi mereka. Kita berharap, para mustahik ini nantinya bisa mandiri secara finansial, hingga kelak bertransformasi menjadi muzaki (pembayar zakat), munfiq, atau mutashaddiq (pemberi sedekah),” pungkasnya.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar