Izin Ndholo Kusumo Dicabut, Mencuat Dugaan Saingan Bisnis Pendidikan

waktu baca 2 menit
Kamis, 2 Jul 2026 13:14 0 37 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Aktivis kemanusiaan, Mulyati, menduga ada oknum pebisnis pondok pesantren (Ponpes) yang getol menginginkan Ponpes Ndholo Kusumo tutup.

BHAYANGKARA 80

Hal itu ia tuturkan kepada awak media saat diwawancarai di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati, Senin, 29 Juni 2026.

Meski izin Ponpes dicabut, ia meyakini bahwa santri-santri tidak mau pindah dari Ponpes Ndholo Kusumo.

Padahal, asesmen telah dilakukan agar santri-santri memilih untuk pindah ke Ponpes lain.

“Anak-anak tidak mau pindah padahal saat asesmen wali santri dihitung untuk memilih pondok lain, tapi nyatanya santri yang masuk di pondok tersebut (Ponpes lain) dikenakan biaya. Saya yakin ada oknum memanfaatkan situasi tertentu karena pondok bisnis yang menjanjikan,” kata aktivis perempuan dari Yayasan Lestari Bumi Pertiwi itu.

Ia yakin banyak oknum ingin menjatuhkan citra Ponpes Ndholo Kusumo.

Pihaknya mengantongi sejumlah bukti orang yang berulah mencari kesalahan dan merugikan Ponpes Ndholo Kusumo.

“Saya yakin sekolah per berapa ratus meter sudah ada pondok, jadi itu bukan hal yang wajar. Ini saya yakin ada oknum di belakang, kita punya bukti yang masih kita tahan,” urainya.

Oknum yang menginginkan Ponpes Ndholo Kusumo jatuh itu diduga warga Desa Tlogosari sendiri.

Ulahnya dinilai sudah meresahkan, mulai dari merusak spanduk Ponpes Ndholo Kusumo, hingga mencuri sembilan bahan pokok (sembako) di Ponpes tersebut.

Mulyati menegaskan, Ponpes Ndholo Kusumo bisa berdiri di atas kaki sendiri, meski tanpa bantuan dari pemerintah, serta banyak donatur yang peduli.

BACA JUGA :  Bea Cukai Kudus Bongkar Sindikat Pita Cukai Palsu Lintas Provinsi

“Pondok ini bisa jadi contoh, tidak dapat dana hibah pemerintah bisa membiayai operasionalnya sendiri. Donatur kita akan terus mendanai pondok ini, niatnya shodaqoh,” ungkapnya.

Ia bersama para pengasuh Ponpes dan wali santri sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Tlogosari maupun warga setempat agar bangunan Ponpes tersebut tetap bisa didiami oleh santri.

Bangunan eks-Ponpes Ndholo Kusumo akan tetapi dihuni, walaupun Kemenag sudah mencabut izin operasional.

“Kami harapkan izin pondok buka kembali, tapi itu sesuai prosedur yang ada. Yang penting santri boleh menempati bekas pondok yang masih bisa dimanfaatkan, karena anak-anak nggak mau pindah. Kami minta izin desa dan warga sudah mengizinkan,” jelas Mulyati.

Di lain pihak, Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Kemenag Kabupaten Pati, Darmanto, menepis dugaan tersebut.

Menurutnya, setiap pihak punya niat baik untuk membuka Ponpes untuk memfasilitasi pendidikan.

“Kalau persaingan mungkin tidak, karena niat seorang kiai mendirikan Ponpes itu sudah niat baik untuk mendidik anak. Jangankan kok berpikir saingan, waktu dan tenaga, pikiran, semestinya untuk kemaslahatan umat,” jelasnya ketika dimintai keterangan Mondes.co.id, Kamis, 2 Juli 2026.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini