Foto: Ilustrasi orang antre melamar pekerjaan (Mondes/Istimewa) PATI – Mondes.co.id | Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Pati hingga saat ini mencapai 29.000 orang.
Jika dipresentasikan, angka pengangguran tahun ini ada di 3,71 persen.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pati, Bambang Agus Yunianto, mengungkapkan bahwa minimnya kesempatan kerja bagi laki-laki ini membuat banyaknya angka pengangguran.
Pasalnya, sejauh ini perusahaan yang berdiri di Bumi Mina Tani, berminat mencari tenaga kerja perempuan.
Ia mengatakan, perusahaan lokal biasa menyerap tenaga kerja perempuan hingga ribuan.
“Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) angka pengangguran di Pati 3,71 persen, setara 29.000. Lapangan kerja di Pati sampai akhir Mei menempatkan 6.500 tenaga kerja di perusahaan Pati seperti Sejin, Misaja Mitra, dan lain sebagainya,” ucapnya kepada awak media, Sabtu, 27 Juni 2026.
Dikarenakan banyak tenaga kerja perempuan yang diserap, maka dari itu Disnaker Kabupaten Pati bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memfasilitasi pencari kerja laki-laki kesempatan kerja di luar negeri.
Upaya tersebut bertujuan untuk memangkas angka pengangguran yang masih tinggi.
“Di Pati karena selama ini perusahaan banyak yang menyerap perempuan, sehingga yang laki-laki larinya ke luar negeri, makanya kita fasilitasi dengan mempertemukan dengan LPK (Lembaga Pelatihan Kerja). InsyaAllah dengan adanya program ini mengurangi angka pengangguran,” ujarnya.
Terdapat berbagai negara tujuan di Eropa seperti Jerman dan Polandia.
Begitu pun juga negara tujuan di Asia seperti Australia, Jepang, dan Korea Selatan.
Meski demikian, minat ke Korea Selatan dan Jepang masih mendominasi untuk pencari kerja dari Kabupaten Pati.
Apalagi, dengan langkah jejaring yang diambil oleh pemerintah, semakin memudahkan tenaga kerja asal Indonesia ke kedua negara Asia Timur tersebut.
“Di Jepang ada kuliah dan magang kerja, di sana dengan bekerja sama Stikom Bali, ketika magang di Jepang gajinya Rp18 juta per bulan. Sedangkan, di Korea ada program yang mudah dengan memperoleh Visa E8, di sana gajinya Rp25 juta per bulan,” katanya.
Ia menyebut, Korea Selatan dan Jepang mampu menyerap 10.000 tenaga kerja asal Indonesia.
Sementara, Australia, Jerman, dan Polandia mampu menyerap 100 hingga 200 tenaga kerja asal Indonesia.
Dengan demikian, ia mematok target persentase TPT turun di tahun ini menjadi 3,5 persen.
“Saya harapkan 2026 ini TPT kita di angka 3,5 persen ada penurunan. Ada sekitar 10.000 tenaga kerja yang diserap Jepang dan Korea. Selain itu, kecil di Australia cuma 100 sampai 200, Jerman dan Polandia juga sama,” sebutnya.
Lowongan pekerjaan senantiasa dibagikan oleh Disnaker Kabupaten Pati secara terus-menerus.
“Yang ditunggu-tunggu Visa E8 Korea paling banyak, karena Korea banyak minta, tinggal jobnya. Kalau yang di Jepang sudah pada ikut pelatihan Bahasa Jepang di beberapa LPK,” imbuhnya.
Disnaker Kabupaten Pati berkomitmen memangkas angka pengangguran dengan memasukkan pelatihan tenaga kerja dari anggaran dana yang disediakan.
Pihaknya juga memberi pelatihan agar masyarakat Kabupaten Pati cakap mengasah keterampilan untuk menciptakan pekerjaan sendiri.
“Upaya memangkas pembangunan, kita dorong pelatihan dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dan DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau). Kita latih agar masyarakat Pati bisa berwirausaha sendiri, tidak hanya mengandalkan kerja luar negeri dan perusahaan,” pungkasnya.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar