Memasak Bubur Asyura, Tradisi Keagamaan Masyarakat Kudus Jelang 10 Muharram

waktu baca 2 menit
Kamis, 25 Jun 2026 13:54 0 43 Singgih Tri

KUDUS – Mondes.co.id | Suasana khidmat menyelimuti kawasan Menara Kudus menjelang 10 Muharram 1448 H.

Takmir Masjid Menara Kudus bersama warga sekitar menggelar tradisi pembuatan Bubur Asyura.

Ratusan porsi bubur dimasak secara gotong royong pada H-1 Peringatan Asyura, lalu dibagikan gratis usai shalat Subuh.

Tradisi ini diyakini masyarakat Kudus sebagai bentuk syukur, sedekah, dan mengenang peristiwa penting di bulan Muharram.

Di Menara Kudus, prosesi masak bubur melibatkan puluhan ibu-ibu Program Penggerak Keluarga (PKK), remaja masjid, dan jemaah.

Pembuatan bubur dimulai pukul 00.00 WIB di halaman Masjid Menara Kudus.

Kuali besar disiapkan, bahan pokok seperti beras, santan, gula merah, dan aneka kacang direbus bergantian.

Ibu-ibu PKK Desa Kauman bergantian mengaduk bubur agar tidak gosong.

Sementara, remaja masjid bertugas menyiapkan kayu bakar, mencuci bahan, dan menata bungkus daun pisang.

Ketua Takmir Masjid Menara Kudus Ahmad Nur Kholik, mengatakan gotong royong ini jadi ciri khas tradisi Asyura di Menara.

Semua warga boleh ikut, tanpa dibeda-bedakan.

“Masak bubur Asyura sudah tradisi turun-temurun di Menara. Kami mulai tengah malam supaya Subuh sudah matang. Maknanya kebersamaan dan kepedulian,” ujar Kholik, Kamis, 25 Juni 2026.

Sebagai informasi, Bubur Asyura di Menara Kudus tidak pakai bumbu tajam seperti bubur biasa.

Rasanya manis gurih dari santan dan gula merah, dengan isian kacang hijau, kacang tanah, dan biji salak.

Menurut sesepuh Desa Kauman, Suroso, tradisi ini memiliki filosofi sederhana, yakni manisnya bubur melambangkan manisnya iman dan kebersamaan.

BACA JUGA :  Ribuan Anak-anak Berkebaya Serbu Museum R.A Kartini Jepara 

Warna putih santan melambangkan kesucian hati di bulan Muharram.

“Orang dulu bilang, siapa yang makan bubur Asyuro di 10 Muharram, InsyaAllah diberi selamat setahun. Tapi yang penting itu sedekahnya, berbagi ke sesama,” tutur Mbah Suroso.

Tradisi ini juga jadi ajang silaturahmi warga lintas RT/RW di sekitar Menara Kudus.

Pada pukul 04.30 WIB, bubur mulai dibungkus daun pisang dan besek.

Total ada 350 porsi yang dihasilkan dari 3 kuali besar.

Usai shalat Subuh berjemaah, takmir membagikan bubur gratis ke jemaah, warga sekitar Menara, pedagang, hingga pengunjung wisata religi.

Sajian ini boleh diambil siapa saja.

Salah satu warga, Siti Aminah, mengaku selalu ikut tiap tahun.

“Senang rasanya ikut masak bareng, terus buburnya dibagi-bagi. Rasanya berkah banget, apalagi dimakan pas pagi 10 Muharram,” ujarnya.

Panitia juga menyisihkan beberapa porsi untuk dibagikan ke panti asuhan dan warga kurang mampu di Kota Kudus.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini