Foto: penyerahan Kartu Mebel Jepara kepada para pekerja sektor informal (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara terus bergerak cepat memperkuat daya saing industri mebel dan ukir yang menjadi urat nadi perekonomian daerah.
Upaya ini diwujudkan melalui rangkaian pelatihan inovasi produk berbasis ornamen ukir, pelatihan pemanfaatan limbah kayu, serta penyerahan Kartu Mebel Jepara kepada para pekerja sektor informal tersebut.
Langkah taktis ini diambil bukan sekadar sebagai program seremonial, melainkan bagian dari strategi besar untuk menjaga keberlanjutan industri unggulan, sekaligus mendongkrak kesejahteraan para perajin di garda terdepan.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengungkapkan dari target total 1.500 kartu yang disiapkan, saat ini sebanyak 850 Kartu Mebel Jepara telah resmi didistribusikan kepada para pekerja.
Kartu ini memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai basis data tunggal (database), sekaligus instrumen perlindungan sosial.
Kartu ini memastikan para pekerja mebel mendapatkan hak perlindungan jaminan sosial yang layak.
“Kegunaan Kartu Mebel Jepara ini untuk memastikan para pekerja tercover BPJS, baik BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan maupun Jaminan Hari Tua (JHT). Dengan begitu mereka tidak kesulitan dan mendapatkan hak yang sama,” jelas Bupati, Selasa (23/6/2026).
Kesejahteraan keluarga perajin juga dijamin lewat sektor pendidikan.
Pemegang kartu yang masuk dalam kategori desil 1 dan 2 (masyarakat rentan) akan diprioritaskan mendapat bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Mereka juga mendapatkan akses prioritas ke program Sekolah Rakyat untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Pemkab Jepara kini tengah memperluas kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta, baik di dalam maupun luar daerah seperti Undip, Unissula, hingga UIN.
Langkah ini diambil guna membuka akses beasiswa pendidikan tinggi bagi anak-anak pekerja mebel, sekaligus meningkatkan kualitas SDM industri ukir ke depan.
“Bagi saya, kemajuan industri mebel tidak hanya diukur dari nilai ekspor, tetapi juga dari kesejahteraan para pekerja yang berada di belakang setiap produk yang dihasilkan,” pungkasnya optimis.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar